Makin Sering Berhubungan Seks, Makin Sehat
 Jika Anda sudah menikah, berhubungan intim menjadi kegiatan baru yang menyenangkan. Hubungan seksual tidak hanya menjadi cara menyenangkan untuk menyalurkan gairah, tetapi juga memberi kebahagiaan, menjaga keintiman suami istri, dan membuat tubuh semakin sehat.
Berita yang kami lansir dari GeniusBeauty menyebutkan bahwa para seksolog menyarankan para pria untuk bercinta setidaknya lima kali seminggu. Dengan demikian, risiko terkena kanker prostat lebih rendah. Mungkin kening Anda berkerut membaca hal ini, tetapi itulah yang disarankan para spesialis. Bagaimana dengan wanita?

sex


Hal yang sama berlaku untuk wanita. Tahukah Anda, ada perbedaan jumlah total hubungan seksual pada negara yang berbeda. Wanita Amerika rata-rata melakukan hubungan seksual 124 kali dalam setahun; wanita Kroasia dan Afrika Selatan 116 kali dalam setahun; wanita Selandia baru 115 kali dalam setahun, disusul oleh wanita Perancis, Italia, dan Israel. Mereka yang tinggal di iklim hangat cenderung lebih temperamental, termasuk dalam urusan bercinta.

sex tipe


Tapi seberapa sering hubungan seksual agar wanita selalu sehat? Jawabannya mudah, lakukan jika Anda menginginkannya. Tidak perlu malu memintanya pada suami. Jangan bebankan pikiran Anda dengan cerita teman bahwa mereka melakukan hubungan seksual lebih sering dari Anda atau sebaliknya. Selama Anda menikmatinya, maka itu adalah hal yang baik. Setiap hari, dua hari sekali atau kapanpun Anda menginginkannya.

sex education


Dari segi kesehatan, hubungan seksual telah terbukti dapat meningkatkan kesehatan wanita. Hubungan intim setidaknya sekali dalam seminggu dapat membantu wanita mengatasi stres. Sementara seks teratur akan mencegah Anda dari insomnia, memperkuat sistem kekebalan tubuh, meningkatkan kesehatan panca indra dan yang pasti, membuat Anda bahagia.

dogy style
 jadi makin sering berhubungan seks makin sehat ..jangan lupa untuk selalu menjaga kebersihan dalam berhubungan intim !!!
Baby Margaretha,
  model seksi tanah air, namanya kini semakin terkenal, ia juga pernah muncul di film horror lokal Pocong Mandi Goyang Pinggul bersama artis porno Sasha Grey. Muda, cantik, dan memilki tubuh seksi yang menggoda. Pose-pose sensual Baby telah banyak menghiasi majalah-majalah dewasa membuat setiap orang terutama pria menelan ludah melihatnya.

Baby Margaretha bugil


Meskipun Baby memiliki body yang aduhai dan senyuman yang menggoda, Baby bukanlah orang yang sombong. Kadang tak segan ia menolong orang yang ia temui atau mengucapkan "terima kasih" pada yang membantunya, Untuk kasus yang terakhir, ada seorang pria beruntung yang pernah menerima ungkapan terima kasih ‘spesial’ darinya .

 Introduction Alkisah Parjo atau yang biasa dipanggil Jo, seorang pemuda yang sudah mendekati kepala tiga umurnya, meninggalkan kampungnya untuk mengadu nasib di Ibukota. Malang karena tak ada koneksi, bekerja serabutanlah ia mulai dari menjadi kuli hingga tukang kebun. Namun Jo bukanlah orang yang mudah menyerah, ia percaya bahwa semangat, mau belajar, dan jujur pasti akan membawanya sukses (yang terakhir perasaan dah pada jarang deh ^^i).

 Tidak sia-sia, berkat keuletannya, ia diminta salah seorang temannya untuk bekerja di studio photo bos temannya di Jakarta. Yah... meskipun kerjaannya juga tidak jauh-jauh dari fisik namun setidaknya gaji yang dia peroleh lebih baik dan cukup untuk dia bagi dengan keluarganya di kampung.

 Suatu pagi Jo sudah berangkat menuju studio tempat ia bekerja. Pagi ini Pak Rudi, bosnya, meminta ia untuk membantu beliau menyeting studio dan membersihkannya. Pak Rudi mengatakan bahwa nanti sore beliau mau mengadakan pemotretan beberapa model hingga malam. "Jooo.... bersihkan ruangannya segera, itu kabel kau gulung yang rapi, yang tak kepake kau simpanlah di gudang sana. Setelah itu kau atur sofanya seperti yang aku bilang tadi, ingat Jo.... hati-hati itu barang mahal, terserah kau garap kapan, pkoknya nanti malam harus sudah siap!" teriak bosnya. "Siap Pak!" Jo menyahut. "Kau sekarang ikut aku ke taman kau angkut peralatan di lemari nomor tiga. E itu rumput sudah kau rapikan kemarin?" "Sudah Pak!" Jo menyahut. "Bagus, sekarang cepat kau ambil perlatannya, setengah jam lagi mereka datang." Yah itulah bos si Parjo, yang memang agak galak, dan mau seba cepat. Hampir tidak ada asisten yang betah bersamanya.

Namun Parjo dengan kesabaran dan keuletannya mampu bertahan. Untunglah Pak Rudy bukanlah orang yang pelit. Tak jarang, ketika beliau senang dengan pekerjaan Parjo, beliau mengajak makan Parjo di restoran mewah, atau memberinya uang rokok berlebih. Namun buah kesabaran dan kejujuran Parjo belumlah pada puncaknya. Namun hari ini adalah permulaannya. Ya, pagi itu, studio tersebut sangat ramai. Banyak proyek yang harus dikerjakan. Model-model baik pria maupun wanita datang silih berganti. Hingga menjelang jam 9 malam ketika sesi pemotretan terakhir. Parjo "Om Rudy... mav Baby telat om. Agak Macet di jalan. Ngomong-ngomong tidak bisa besok ya om??" tanya seorang wanita cantik dan seksi. "Selamat malam baby.

Om tidak bisa, deadline sudah dua hari lagi, besok om ada jadwal lain, dan masih harus mengedit hasilnya, ngomong-ngomong sendiri kau datang kemari? Mana supir kau?" tanya Om Rudy. "Pak Supri sedang pulang kampung anaknya sakit, besok siang baru pulang, makanya Baby minta besok om" jawab Baby. "Siapakah cewek itu?" Jo bertanya dalam hati, matanya melihat gadis itu dari ujung kaki hingga ujung kepala. "bukan main sexynya" pikirnya. Ya saat itu Baby Margaretha menggunakan rok dia atas lutut dengan tanktop dipadu dengan jaket jeans biru, so sexy. "Parjooo.... sini kau bantu saya kerja!" tiba-tiba bosnya berteriak membuyarkan lamunannya. Si...siap Pak..!" Setelah sesi pemotretan tersebut usai, Baby Margaretha membereskan tasnya hendak pulang ke apartemennya. "Baby, lebih baik kamu menginap di rumah om saja, nanti om bilang sama istri om, tidak baik pulang malam-malam" kata om Rudy. "Tidak apa-apa om, Baby sudah biasa, Baby sudah tahu mana rute yang aman, om" jawabnya. "Yakin kau tak mau menginap?" "Iya om tidak apa-apa." Akhirnya Baby memacu kendaraannya. (dering ringtone HP), "Wah hape Baby ketinggalan, kebetulan rumahnya dekat kos kau Jo, kau antarkan ke sana ya, Rumahnya di Perumahan xxxxxx no xx kau tahu kan?" "Tau bos, kos saya tidak jauh dari situ" jawab Jo. Malam itu ia pun segera memacu motor lamanya, untuk mempersingkat waktu, ia menerabas jalan-jalan kampung.

The Mistake "Uh sial, kena paku lagi, mana malam-malam begini" keluh Baby Margaretha Ban mobilnya tertusuk paku sangat dalam. Membuatnya harus terhenti. "Duh coba gue tadi nginep aja" keluhnya. Sebenarnya Baby belumlah terlalu hapal rute yang aman, dia hanya melalui rute singkat menghindari tol, sebab dia sering menyuruh supirnya pada siang hari untuk melakukan itu supaya ia bisa cepat mencapai studio tempat ia melakukan sesi foto atau ketika ia pulang agar cepat sampai. Celakanya, menjelang tengah malam, kawasan itu biasanya rawan. sudah banyak penodongan terjadi di sana. Ia kini menyesal mengapa ia tidak mengiyakan tawaran om Rudy untuk menginap di rumahnya. Dalam kebingungan Baby melihat-lihat apakah ada orang yang dapap dimintai pertolongan. Tiba-tiba datanglah beberapa orang bertampang preman.

 Yang Pertama si Gendut Bruno. Bruno sebetulnya tidaklah terlalu gendut. Perawakannya tinggi besar. Satunya lagi si kurus Tomi. Kulitnya gelap dengan rambut jarang-jarang. Mereka berdua termasuk preman di daerah tersebut. Tak jarang mereka mencegat kendaraan yang lewat malam hari untuk sekedar memalak korban-korban mereka. Melihat korban mereka kali ini adalah seorang gadis muda cantik nan seksi, mereka mengubah pikiran mereka untuk tak sekedar memalaknya.
 "Hehehe... sayang ki, kalo cuman dipalak, dah lama gak liat awewe hot euy" kata si gendut.
"Ah ko bisa saja bro, benar, mending kita garap dia dulu hahaha...."
 timpal si kurus. Mereka pun mendekati Baby yang malang.
"Oh my god, siapa mereka? Jangan-jangan...."
Baby merasa tidak enak dalam hati melihat kedatangan para pria bertampang tidak bersahabat itu.
"Hahaha.... Sendirian aje nih Neng Cantik?" sapa si gendut tiba-tiba membuat Baby kaget setengah mati.
"Aduh... gawat..." katanya dalam hati.
"Kenapa Neng? Ban bocor ya? Kasihan.... sini abang bantuin pompain bannya Neng hehehe..."
timpal si kurus cekikikan. "Eh... enggak bang makasih" kata Baby dengan senyum dipaksa walau mengetahui dirinya dalam bahaya.
"Ah Jangan gitu non, kita mau kok bantuin Non, asal..." kekeh si gendut sambil melirik si kurus.
"Asal non bantuin kita-kita juga hahaha...." tawa si kurus sambil dengan tiba-tiba ia memegang payudara Baby.
"Hei...jangan kurang ajar kalian!” bentak Baby Margaretha seraya menutupi dadanya dengan kedua tangannya.
"Uih.. kenyal cuy, kencang nian body nih cewek huahahaha..." sahut si kurus terkekeh.
Mereka pun kemudian melingkari Baby mengepungnya.
Tiba-tiba "plak" tangan si gendut menampar dan memainkan pantat Baby "TOLOOONNGG!!" teriak Baby dengan panik.
"Hahaha... teriak aja Non, nggak bakal ada yang ngedengerin, rumah orang-rang pada jauh dari sini" ejek si gendut.
"TOLOOONNGG....." Baby kembali berteriak sambil merangsek ke depan berusaha kabur.
Namun si gendut yang sudah menduga gerakannya, segera menangkap dan membekap mulutnya dari belakang sehingga Baby tidak dapat bergerak dan berteriak.
"Mmmpphh.... Mmpphh..." Baby kini hanya bisa menggumam.
"hihihi...ayo manis, kita main-main sebentar, nanti baru ban nya kita betulin!" tawa si kurus.
Belum lama mereka merasa senang karena sebentar lagi akan segera menikmati santapan lezatnya ini, tiba-tiba ada sebuah motor yang menabrak si kurus dari belakang.
"Hwaduuhhh.....heh siapa itu!!" segera si gendut melepaskan bekapannya dan memburu si penabrak.
"EH SINI LOE ANJING!" makinya.
Namun kali ini lawan si gendut betul-betul gesit. Dia bergerak kesana kemari bagaikan kancil sehingga serangan si gendut hanya menyapu angin saja. Tiba-tiba sebuah tendangan ke arah anunya si gendut melayang telakv "HWADOOOHHHH!!" si gendut meringis dan segera disusul sebuah pukulan ke arah dagu yang membuatnya pingsan.
Sementara itu si kurus yang baru saja bangun dan terpincang segera akan mengambil langkah seribu sebelum tiba-tiba kepalanya terbentur helm motor yang diayunkan oleh Baby dan mereka berduapun pingsan.
"Wah non, bahaya pulang malam sendirian, harusnya non tadi nginep aja non" kata si penolong yang ternyata adalah si Parjo alias Jo.
"Joooo...." Kata Baby Margaretha sambil berlari dan memeluk Jo.
Merasakan dekapan cewek cantik aduhai apalagi kini Baby juga menekankan payudaranya pada Jo tentu bakalan membuat si otong lelaki manapun tegak berdiri.
"Aduh iya non, aduh mav say jadi sulit napas non, aduh" kata Jo Jaim.
"Aih... makasih Jo kalau tidak kamu saya sudah..." kata Baby lagi.
"Udah non gak apa-apa, yang penting non selamat. Ada talii??" tanya Jo.
"Ada Jo tapi ban mobilku mogok" kata Baby.
"Nggak apa-apa non, yang penting kita tali mereka dulu di pohon itu, sebelumnya kita bugilin dulu mereka, baru aman saya menggantikan ban mobil non" usul Jo.
Segera mereka berdua mengerjai kedua preman tersebut. lalu Jo segera mengganti ban mobil Baby cepat-cepat sebelum mereka sadar. Untuk berjaga-jaga Jo pun mengawal Baby Margaretha pulang ke rumahnya.Rumah Baby
"Ya di sini Jo, terima kasih ya... ayo sini masuk dulu, Jo!" kata Baby manis.
Tak lama kemudian mereka telah sampai di rumah Baby dengan aman.
"Aduh non makasih, udah malam gak enak sama tetangga, ini saya sebenarnya mo nyusulin hapenya Non yang ketinggalan." kata Jo segera membuka tasnya dan menyerahkan hp tersebut.
"Aduh Jo benar ini hape saya, aduh.... Jo Makasih ya, ya udah sebentar ya." Baby pun mengambil dompet di tasnya.
"Nggak Non, gak usah, saya ikhlas kok benar, saya pikir hp ini kan barang pentingnya non Baby, kalo sampai ilang, pasti non Baby bakalan kesulitan." kata Jo tambah jaim.
Melihat ketulusan hati Jo, Baby pun merasa kasihan padanya. Bahkan uang yang akan diberikannya bahkan ditolak. Tiba-tiba muncullah sebuah ide nakal di pikirannya.
"Yah... Jo ijinin baby berterima kasih dong.... Paling enggak masuk dulu dong, sini Baby buatin minum ama sandwich yah? jangan nolak loh, kalo enggak Baby nangis nih" rayunya.
"Duh jangan nangis non, jadi nggak tega Jo, iya deh non, Jo masuk, sebentar aja ya" katanya tak dapat mengelak.
Di dalam merekapun duduk bersama di sofa ruang tengah menikmati sandwich dan sirup dingin yang Baby buat. Namun tanpa sepengetahuan Parjo, Baby telah memasukkan obat kuat ke dalam minumannya.
"Jadi asalmu dari kampung Jo?" tanya Baby.
"Iya non, abis saya sumpek di kampung, gak ada kerjaan, daripada nganggur, saya mencoba ngadu nasib di Jakarta, siapa tau berhasil, tapi ya gini sih non, saya syukurin aja apa yang saya dapat sekarang." jawab Parjo.
"Udah berapa tahun kamu di Jakarta Jo?" tanya Baby.
"Sudah lima tahun lebih sih non." seraya menghitung dengan jarinya.
"Oh... la keluarga kamu gimana Jo? Apa kamu gak kangen?" tanya Baby lagi.
"Kangen sih Non, paling saya pulang setahun sekali pas libur panjang. Kalaupun saya bawa mereka ke Jakarta, kasihan Non, di sini apa-apa mahal dan macet, takutnya gak pada betah Non." keluh Parjo.
"Wah hebat kamu Jo, kamu orang yang baik ya. Jarang saya bertemu laki-laki sepertimu." puji Baby dan memandang mata Jo dengan nakal. "Beruntung ya, cewek yang dekat denganmu."
"Ah.. saya nggak punya pacar non, mana ada yang mau sama cowok jelek macam saya non." kata Jo malu-malu.
"Masak sih Jo, kamu cakep kok di dalam sana" rayu Baby
"Ah non Baby bisa saja" kata Jo tersipu malu.
Tiba-tiba Baby Margaretha berpindah tempat duduk mendekati Jo.
Kedua kaki seksinya ia taruh di sofa seraya memandang Jo nakal. Pria mana yang tidak bakalan tergoda yang melihat cewek seksi dengan celana jins super pendek seolah seperti CD dan tanktop ketat yang menunjukkan lekuk tubuh serta belahan dada seorang Baby Margaretha.
Ditambah dengan tatapan nakal Baby, membuat Jo agak klepek-klepek.
"Jo, Baby gak bohong kok, Jo cakep deh" rayu Baby lagi.
Kini Jo hanya terdiam, ada sedikit di celananya.
Baby pun melanjutkan rayuannya
"Jo, mau gak Jo jadi pacar Baby malem ini aja? Paling gak, Baby beneran mau balas budi buat Jo. Mau yah Jo..." Melihat sikon yang mulai mengundang Jo pun sadar, dia sebenarnya juga tergoda oleh rayuan Baby Margaretha.
Bagaimanapun, Jo adalah seorang pria dan tidak ada satupun pria waras yang tidak akan tergoda oleh body seksi Baby Margaretha barang sedikitpun. Ia juga paham, dia sebetulnya bukanlah pria yang betul-betul alim.
Karena pergaulan juga, dia akhirnya pernah merasakan surga dunia walaupun membayar. Kebetulan waktu menjadi kuli, banyak teman-temannya berasal dari perantauan. Tak jarang bagi mereka yang telah beristri merindukan kehangatan tersebut.
Dan tak jarang pula mereka mengajak Jo.
Awalnya karena gengsi dan tidak ingin dianggap cupu, dia mengikuti teman-temannya.
Namun ia belakangan agak ketagihan kala birahinya memuncak. Hanya saja pekerjaan yang sibuk dan berat belakangan rupanya mampu mengontrol nafsu Jo. Namun ia masih ingat kalau Baby adalah klien penting bosnya. Jo tidak mau perbuatannya nanti menjadi masalah di kemudian hari.
Dengan jaim dia berkata, "Aduh Non, beneran Jo Ikhlas, aduh Non... mending jangan deh, Jo gak enak sama non dan pak Bos."
Baby pun tertawa mendengar Jo berkilah, ia berkata dalam hati, "Huh, jaim-jaim ngaceng juga kamu."
Baby pun kembali menggodanya "Jo, kalau kamu ikhlas, kenapa dedekmu nggak sih" seraya mengelus tonjolan di celana Jo.
Jo pun kaget setengah mati, jantungnya hampir copot. Benar apa yang dikatakan Baby, ternyata si otong nggak ikhlas. Di balik persembunyian si otong seolah berteriak-teriak minta jatah untuk beraksi.
Melihat Jo hanya terdiam, Baby pun kembali merangsang Jo. Kali ini tangan kirinya merangkul Jo, buah dadanya yang montok dan berisi ia tempelkan ke dada bidang Jo dari samping, sementara itu tangan kanannya masih mengelus-elus tonjolan di celana Jo.
Kali ini Jo sudah tidak dapat menolak. Entah karena birahinya kembali memuncak tak terbendung atau dengan pengaruh viagra yang tanpa sadar ia minum tadi, kini, Jo mulai larut dalam permainan. Namun perasaan jaim masih tersisa di pikirannya, "Non, bener saya tidak enak non sama non dan pak Bos, kalau ada yang tahu gawat non, bisa dipecat saya" rengek Jo.
"Ah Jo.... santai aja kali, rumahku sedang sepi kok supirku sedang pulang kampung dan pembatuku baru besok siang balik sini. Santai aja Jo kita aman kok, gak ada yang ngintipin, asal...." rayu Baby lagi.
"Asal apa non?" tanya Jo.
"Asal kamu gak nolak dan jangan bilang ini ke siapa-siapa yah, hanya untuk kita berdua aja yah Jo." jawab Baby.
Mendapat lampu hijau seperti itu, Jo menjadi tidak ragu-ragu lagi.
"Siap non hehehe..." Jawab Jo bersemangat. "Idihh... tadi malu-malu jaim, sekarang nafsu nih ye" ledek baby dengan tertawa Jo tida membalas. Mereka hanya bertatapan kemudian Jo memulai inisiatif dengan melumat bibir Baby Margaretha terlebih dahulu. Tangannya segera meremas-remas payudara Baby dengan lembut. Beberapa menit bibir mereka bertemu dan berpagutan. Lidah Jo dengan aktif menggelitik rongga mulut Baby.
"Jo kamu udah pernah ya?" tanya Baby kemudian melepas ciuman mereka. "
Hhhh.... sudah non, dulu pas jadi kuli, tapi ya cuman jajan biasa non." jawab Jo sambil mengambil napas.
"Hmm... jadi beneran belum pernah ama pacar ya Jo?" tanya Baby lagi.
"Belum, emang kenapa?" tanya Jo.
"Gak apa-apa, sini, baby contohin. Idih... jangan di monyongin dong Jo hahaha..." Baby tertawa melihat ulah Jo. "Sini Jo deketin wajahmu"
Jo pun mendekatkan wajahnya. Kali ini, giliran Baby Margaretha yang melumat bibir Jo.
Pertama, dipegangnya dagu Jo, kemudian dikecup-kecupnya bibir Jo dengan lembut menghisapnya perlahan dan pelan-pelan Baby memainkan lidahnya.
Baby memainkannya dengan baik seolah mengajak lidah Jo bergulat serta membuat bibir Jo hangat seolah dipeluk membuat Jo bak di atas awan.v "Gitu Jo, sekarang giliranmu ayo!" ujar Baby, kini baby bahkan memosisikan duduknya sehingga ia kini dipangku oleh Jo.
Jo pun melakukan apa yang dicontohkan oleh Baby. Dipandangya gadis molek itu, kemudian dikecupnya lembut bibir Baby seolah memeluknya, kemudian, ia teruskan dengan memainkan lidahnya perlahan seolah mengajak lidah Baby berpagutan.
Baby kemudian menaruh kedua tangan Jo di payudara dan pahanya, kemudian ia meminta Jo untuk melakukannya lagi.
Dengan lembut tangan Jo membelai-belai payudara dan paha foto model seksi itu.
Kemudian ia selipkan tangannya dibalik tanktop ketat dan hotpants Baby, mencari-cari putingnya di balik cup penutupnya kemudian memijitnya lembut dan nakal.
Gairah mereka berdua kini telah memuncak. Baby dan Jo saling melepaskan baju mereka.
Jo masih menyosor dengan ciuman-ciuman nakalnya pada bibir Baby sementara kedua tangannya bergerilya membelai-belai tubuh seksi Baby Margaretha.
Baby kemudian mengajak Jo masuk ke kamarnya. Ia kemudian mendorong tubuh Jo bersandar di ranjangnya, kemudian Baby mengkecup-kecup puting Jo, memainkan dengan lidahnya dan tangan lembutnya kini mengarah ke batang kejantanan Jo, membelainya dan memijitnya dengan hangat.
Baby sangatlah pintar memainkan lidah nakalnya.
Diputar-putar lidahnya mengelilingi puting Jo dan digigit-gigitnya kecil seolah itu permen mint bagi Baby, sementara tangannya membelai kejantanan jo dengan berirama.
Permainan Baby pun membuat Jo terangsang setengah mati. Ia pun juga tak mau kalah, kini ia memilin-milin dan memijat puting Baby membuatnya mendesah tak keruan, Kesempatan itu tak disia-siakan, Jo segera melumat payudara Baby yang montok itu. Diciuminya dengan lembut dan menggigiti puting Baby membuat Baby mendesah-desah. Tak lupa Joko kombinasikan dengan sapuan lidahnya seperti yang dicontohkan oleh Baby tadi. Jo menaruh tangannya pada vagina Baby, mencari-cari klitoris Baby dan memainkannya, "Auw... pelan-pelan dong Jo, pelan, kayak kamu mijitin putingku tadi Jo" rayu Baby nakal.
Jo pun menurutinya. Kini sambil memainkan puting Baby, Jo memijit-mijit klitoris Baby dengan lembut membuat Baby mendesah-desah tak karuan dan menggigit bibirnya.
Sesekali Jo mencelupkan jari-jarinya ke dalam vagina Baby, mengoreknya perlahan seolah tidak ingin kehilangan setiap jengkal cairan madu dalam vagina Baby. Tiba-tiba ia menemukan suatu tonjolan-tonjolan kasar dan menekannya.
"Aaahhhhh..... terus Jo, di situ teeerruuusss....." desah Baby mengeliat-geliat.
Jo pun makin bersemangat melakukannya. "Ohh.... ohhh,,, Jooo... Aku keluarr....." desah Baby mencapai orgasmenya diiringi lendir kewanitaan yang mengalir deras dari vaginanya.
Jo pun segera menyeruputnya dengan lahap. Lidah Jo seolah menyeka seluruh belahan vagina baby tanpa menyisakan cairan lendir sedikitpun. Baby pun mengambil nafas sementara Jo masih sibuk menyeka vaginanya.
"Jo sini dong tiduran sebelah Baby..." rayu Baby.
Jo pun menurut. Kini baby memposisikan dirinya di atas Jo sehingga lebih leluasa melihat penis pria itu.
"Jo punyamu besar juga ya" kata Baby sambil sibuk membelai kejantanan Jo, menjilatinya memutar, memainkan lubang kencing Jo dengan lidahnya yang nakal, dan mengulum-kulum penis tersebut.
Dalam Hatinya surprise juga Baby melihat penis Jo berukuran hampir sepusarnya dengan diameter 4 cm. Namun membayangkan ukuran penis yang akan menggarapnya mebuat Baby makin bersemangat.
"Ohhh..... terussss Non... Ssspppp.... ohhhh.... enak non, terus" racau Jo tidak karuan.
Baby pun kini menjepit penis Jo dengan payudaranya yang montok. Ia menaik turunkan payudaranya. sembari mulutnya masih mengulum penis Jo.
"Ohhhhh.... " lenguh Jo panjang.
Tak urung isapan mulut seksi Baby ditambah jepitan Payudara Baby membuat kelabakan setengah mati. Pertahanan Jo akhirnya jebol, "Uh... non... Jo mau keluar non, lepas dulu non!"
Namun Baby tidak memperdulikan ucapan Jo dan terus menghisap penisnya hingga akhirnya Jo ejakulasi dalam mulut Baby.
"Uhhh.... Ohh....." "crot...crot....crot..." lebih dari lima kali penis Jo berkedut, namun Baby Margaretha masih belum melepaskan isapannya dari penis Jo, seolah tidak ingin melewatkan setetespun sperma yang keluar dari penis Jo.
Cairan putih itu dilahapnya dengan rakus. Jo hanya bisa mendesah keenakan
"Ahhh..... Non Babyy...."
Baby Maragaretha pun menyelesaikan isapannya dengan sebuah kecupan kecil pada lubang kencing Jo.
Lalu ia menjulurkan lidah menunjukkan sisa sperma yang dia tampung di mulutnya pada Jo, kemudian menelannya habis. Pemandangan nakal itu membuat Jo takjub. Baby Margaretha kemudian meminta Jo untuk mengambilkan segelas air dingin dari lemari es di pojok kamar. Ia lalu meneguk air minum tersebut.
"Uih... seger Jo..." kata Baby Manja.
"Non, apa gak jijik nelen peju? Emang rasanya enak ya Non" tanya Jo keheranan.
"Habis pejumu enak sih Jo" kata Baby terkikik. "gurih lagi" godanya.
"Eh apa iya non " kata Jo polos tidak percaya.
"Enggak segitunya kali Jo, tapi enak kok hahaha..." tawa baby.
Dalam hati Baby berpikir ternyata sangar-sangar gini Jo culun dan menyenangkannya, tidak seperti para pria yang pernah membookingnya yang hanya sekedar menginginkan sex darinya. Baby berpikir andai Jo mau menjadi budak seksnya pastilah asyik.
Jo kini memulai inisatif, dibelainya lembut tubuh Baby Maragaretha dan diciumnya dengan lembut.
"Tadi malu-malu kucing, sekarang nagih ya Jo?" goda Baby nakal.
Jo hanya tersenyum dan kembali menggarap tubuh seksi Baby.
Tak beberapa lama, penis Jo kembali menegang dan kini ia pun siap. Ia memposisikan dirinya di bawah dan Baby di atas. Baby pun tanggap dan segera membimbing penis Jo masuk ke dalam liang vaginanya. Perlahan-lahan Baby menurunkan pinggulnya, namun penis Jo memang besar.
belum sampai tertelan semua, Baby merasakan sesuatu menyeruak di pintu rahimnya. Ternyata penis Jo Mentok di vaginanya.
"Uuuhh...gedenya, memek gua ampe penuh" gumam Baby dalam hati.
Baby mendiamkan dulu vaginanya menancap mencoba beradaptasi dengan penis Jo.
Tak lama kemudian ia baru mulai menggoyangkan pinggulnya perlahan. Perlahan pula rasa perih dan sesak di vaginanya berkurang dan mulai tergantikan rasa nikmat. Baby menaik turunkan pinggulnya dipadu dengan gerakan maju mundur dan memutar.
Terkadang Parjo menggodanya dengan mengangkat pinggulnya supaya penisnya masuk lebih dalam.
"Ahhh..... Ohhhh..... SSss... JJoooo..... Enak, Jo" ceracau Baby Margaretha.
Baby tambah mendesah-desah ketika tangan Parjo dengan usil menggerayangi payudaranya.
Memijit-mijit puting dan membelai kedua buah dada dengan lembut.
"Iisseeeppp Jooo.... Ahhh.... Sshhh...." desah Baby meminta Parjo menghisap payudaranya.
Parjopun kini duduk memangku Baby dan menariknya mendekat padanya supaya ia dapat menyusu pada payudara montok itu. Baby pun melanjutkan genjotannya naik turun. 10 menit kemudian Parjo meminta Baby nungging namun ia tidak langsung memasukkan penisnya.
Ia gerayangi payudara Baby dan ia tusuk-tusuk vaginanya dengan kedua jarinya membuat Baby tak tahan, "Engghh.... Jo masukinnn...." pintanya lirih Maka dengan satu sentakan medadak Parjo menusukkan penisnya pada liang vagina Baby.
Membuat tubuh Baby melengkung ke atas disertai lenguhan nikmat. Kesempatan itu tak disia-siakan Parjo.
Kepalanya meyusup melewati bawah ketiak Baby dan menyusu pada payudara Baby. Parjo sungguh membuat Baby kewalahan, penis Parjo menusuk dengan berirama. Sebentar lambat lalu tiba-tiba disusul dengan tusukan cepat penis Parjo hingga mentok ke mencapai pintu rahim Baby.
Ditambah dengan isapan-isapan nakal pada puting payudara Baby sesekali disertai gigitan lembut.
Serangan bertubi-tubi Parjo membuat Baby kewalahan. Tak berselang lama Baby melenguh panjang. Mulut seksinya membentuk huruf O dan punggungnya melenting ke belakang menandakan oragasmenya telah datang. Cairan cinta Baby mengalir deras dari sela-sela liang vaginanya.
Namun Parjo tidak menghentikan tusukan-tusukan penisnya pada vagina Baby sehingga orgasmenya datang bergelombang. Hal ini tentu membuat Baby melenguh panjang.
Bibir parjo kini berpindah dari payudara Baby menuju bibirnya, Mereka berciuman dengan penuh gairah. Kini Parjo membuat Baby tiduran terlentang. Membuat Parjo lebih mudah melancarkan serangan-serangannya. Ia langsung menaikan kecepatan.
Baik tangan kanan dan kiri tak luput membelai dan meremas-remas payudara seksi Baby. Bibir Parjo juga bergerilya dari satu puting ke bibir seksi Baby. Baby segera memperoleh orgasme kedua.
Tubuhnya melenting ke atas namun tertahan oleh tindihan Parjo. Sementara itu kedua tangan Parjo meremas kedua payudaranya dan keduanya saling berciuman.
Rupanya Baby menikmati kondisi dimana Baby seolah sedang diperkosa Parjo.
Ia memeluk Parjo dan ia kaitkan kedua kakinya pada pinggul Parjo. Baby sekali lagi mendapatkan multi orgasme. Kali ini Parjo makin mempercepat tusukannya. Baby kelabakan menerima gempuran itu hingga akhirnya ia mendapatkan orgasme keempatnya.
"Hekh....heh.... Non. Jo mau keluar non, Jo keluarin di luar ya non" kata Parjo takut membuat Baby hamil.
Namun Baby justru mengaitkan lagi kakinya pada pinggul Parjo dan memeluknya serta menciumnya dengan ganas.
Membuat tekanan pada penis Parjo berlipat. Penis Parjo seolah dipijit-pijit dari segala arah plus telah mentok pada mulut rahim Baby seolah penis Parjo sedang menciumi pintu rahimnya. Membuat Parjo segera menyemburkan spermanya dengan deras pada rahim Baby.
"Crott....Crroott....Crroott..." penis Parjo berkedut-kedut mengeluarkan isinya mengisi rahim Baby.
Setelah melalui gelombang orgasmenya, Parjo pun ambruk menindih Baby. Penisnya masih menancap pada liang vagina Baby.
"Hhh.... Non, gak papa di dalem? Kalo non hamil gimana?" tanya Parjo resah.
"Kalo gue hamil, Jo tanggung jawab yah" goda Baby nakal.
"ehh...kok?" Parjo panik.
"Hahaha.... gak apa-apa Jo, baby selalu minum pil anti hamil kok, santai aja. Lagian lebih enak kalo dilepasin di dalem Jo, lebih dalem sensasinya" jelas Baby.
“Fuhh….” Jo pun menarik napas lega karena Baby hanya bercanda.
Kini mereka berdua bangkit dari ranjang, Baby segera menarik lengan Jo menuju kamar mandi. Kamar Mandi Baby tidaklah terlalu besar, namun ada bathub dan shower di dalamnya.
Di dalam kamar mandi, Baby dan Parjo saling semprot dengan shower. Hampir seluruh tubuh Baby Parjo semprot, apalagi vagina Baby yang merah dan ditumbuhi sedikit bulu-bulu halus membuatnya kegelian. “Hahaha…. Geli Jo…. Geli….” tawa Baby manja.
Kini giliran Baby mengerjai Parjo. Disemprotnya Parjo dan kembali penis Parjo ia jepit di antara payudaranya dan hisap-hisap hingga tegang kembali. Kali ini Parjo tidak mau kecolongan.
Parjo menyandarkan tangan Baby pada bathub dan memegang pantat Baby mengepaskan dengan penisnya. Tiba-tiba, “blush…” penis Parjo menusuk masuk liang kenikmatan Baby, membuat Baby melenguh nikmat dan tubuhnya terlenting seksi ke belakang. Tangan Parjo pun memegang bongkahan pantat Baby. “Ssshhh…. Jo, tampar pantatku Jo…” erang Baby nikmat.
“Plak….plak…plak….” tamparan pun mendarat di pantat Baby membuatnya memerah.
“Ssshhh…. Enak Jo, saya mau keluar” erang Baby menahan nikmat.
Parjo pun menaikkan kecepatan tusukannya. Kedua tangannya kini meremas-remas payudara Baby.
“Ohhh…..” “Crrrr….crrr…” Mulut Baby membentuk huruf O yang seksi. Tubuh Baby melenting ke belakang.
Lututnya bergetar tak mampu menahan berat tubuhnya. Baby terjatuh pelan bertumpu pada lututnya. Sementara Parjo masih mendiamkan Baby menikmati orgasmenya dan menyangga tubuh Baby agar tidak terlepas.
“Jo, capek berdiri terus nih” keluh Baby manja.
Maka gantian lah Jo duduk di bathub dan memangku Baby yang sedang berusaha memasukkan penis Parjo ke dalam liang kenikmatannya. “Bleeeshh….” “Heghh….” Baby melenguh, merasakan penis Parjo menembus ruang terdalam liang kenikmatannya dan seolah mencumbu pintu rahimnya seolah membuat vaginanya meleleh nikmat. Jo pun berdiri dan menggendong tubuh Baby.
Jo mulai melanjutkan persetubuhan yang hot itu. Dia menyandarkan tubuh Baby pada tembok, menusuknya dengan kencang, dan sesekali menciuminya.
Sementara Baby mengaitkan kakinya dengan erat dan memeluk Jo kencang supaya tak jatuh. Posisi ini membuat tusukan-tusukan Jo semakin dalam. Baby pun mengerang keenakan, membuat Jo bersemangat.v Tak berselang lama, tubuh Baby melenting mendapatkan orgasmenya. Jo yang pada posisi itu merasakan penisnya bagaikan di giling-giling nikmat oleh vagina Baby pun tak kuasa menahan gejolaknya lagi. Dengan sekali sentakan, penis Jo kembali mencium pintu rahim Baby Margaretha dan mengalirkan sperma hangatnya ke dalam rahim Baby, mengisinya penuh, seolah Jo ingin Baby mengandung anaknya.
Mereka berduapun berciuman mesra, bibir dan lidah saling mengait, seolah tak ada hari esok.
Jo pun duduk kembali pada bathub. Kali ini giliran lutunya yang bergetar. Sementara Baby sibuk membersihkan penis Jo dengan hisapan mautnya seolah tak ingin ada sperma yang tertinggal. Setelah itu merekapun mandi bersama, saling membasuh dan menyabuni satu sama lain. Tentunya Jo tak melewatkan kesempatan untuk kembali meremas-remas payudara Baby yang seksi.
End of Night
Usai mandi, Baby meminjamkan kimono dan handuknya pada Parjo.
Sementara Baby membalut tubuh seksinya dengan handuk ungu. Berjalan menuju lemari es dan menungging untuk mengambil botol air mineral.
Mengarahkan pantat seksinya pada Jo, seolah kembali mengundang untuk bermain.
Melihat pemandangan yang begitu menggoda, Jo kembali mendekati Baby dari belakang dan memeluknya hangat.
“Ei...ei.. Jo… udah dulu dong, Baby mo istirahat dulu, kamu udah tiga kali keluar lo Jo” kata Baby Margaretha sewot.
“Hehehe… tanggung non, biasanya kalo udah tiga juga Jo lemes. Cuman entah kenapa ini otong “naek” lagi, udah deh non, nurut aja yah” Kata Jo terkekeh.
“Gawat, gue lupa, tadi udah masukin viagra ke minuman Jo” gumam baby lirih. Namun apa daya, serbuan Jo juga kembali membangkitkan gairah Baby Margaretha. Tubuhnya haus akan belaian lelaki.
Beberapa hari ini memang para bos-bos dan eksekutif yang membookingnya belum memanggilnya lagi karena sedang sibuk, maklum akhir tahun, masa tutup buku, sedang sibuk-sibuknya, sehingga ia tidak merasakan seks yang penuh gairah sejak itu. Baby pun menyambut ajakan Jo, dan kembali mereka keduanya memadu kasih hingga pagi menjelang.

Baby Margaretha bikini

Baby Margaretha gisring

Baby Margaretha toples

Baby Margaretha sexsi

Baby Margaretha

Baby Margaretha Hot

Baby Margaretha tanpa busana

Baby Margaretha bikini

ini adalah cerita malam bukan realita, nama tokoh hanya sebagai fiktif belaka..
JANGAN LUPA BACA DI TREND LAINYA :)
Perkenalkan namaku Nikita mirzani, seorang ibu rumah tangga etnis Chinese yang baru berumur 26 tahun.
Suamiku, Jonny, adalah seorang wiraswasta yang sudah cukup sukses di umurnya yang baru menginjak 30 tahun.
nikita mirzani bikini
Aku yang tidak diperbolehkan bekerja, setelah menikahi Jonny, memilih menghabiskan waktu di tempat fitness.
Berkat itu pula aku bisa membentuk tubuh yang bisa membuat semua laki-laki menoleh.
Jonny sebagai suami yang baik mampu membuat hidup kami lebih dari cukup. Sewaktu kami menikah, dia membeli sebuah rumah di kawasan elite untuk kami.
Setelah 1 tahun, kami juga membeli beberapa rumah di tempat lain yang kami kontrakkan.
Karena bisnis suamiku yang semakin meroket, suamiku semakin sering pergi ke luar kota.

Praktis meninggalkan aku sendirian di rumah ketika malam hari, karena pembantu hanya bisa bekerja dari jam 6 pagi sampai jam 4 sore. Jonny akhirnya menyewa seorang satpam rekomendasi Nuri, pembantu kami, untuk berjaga di rumah. Maklum, meskipun perumahan elite, tetapi perumahan ini sepi sekali dan jarak satu rumah ke rumah lain relatif jauh.
 Aku sebenarnya agak senang dgn kehadiran satpam baru yg bernama Yanto itu.
Pernah beberapa kali aku memergoki dia sedang mengintip ke belahan dadaku ataupun pahaku.
Tatapan matanya seolah olah menelanjangiku.
Yang aneh, bukan merasa tersinggung atau marah, aku malah menyukainya menatapku.
Memang untuk ukuran tubuhku, payudaraku terkesan besar, dengan lingkar dada 34 dan cup D, ya benar D, sangat sulit bagiku untuk tidak menarik perhatian. Aku yang juga mempunyai rambut panjang dan tiga tindikan di telinga dan satu di hidung membuatku semakin terlihat menonjol.

Rambut yang hampir selalu ku kuncir kuda semakin jelas memperlihatkan pesonaku.
Leherku yang jenjang, dadaku yang membusung padat dan kilau perhiasan di setiap lobang tidikanku. Di tempat fitness, di mall, di mana saja aku selalu bisa menarik perhatian banyak orang, terutama kaum adam. Apalagi hampir seluruh baju yang kupunya berpotongan sexy.
Jonny sendiri tidak pernah melarang aku berpakaian sexy.
Dia justru semakin menyukainya, dia bahkan pernah bilang kepadaku kalo dia bangga punya istri yang sexy.
Aku pun akhirnya terbawa dengan cara berpikirnya. Aku jadi merasa bangga jika tubuhku bisa menarik perhatian orang.

Tetapi, aku tetap setia kepada suamiku. Aku memang masih perawan ketika menikahi Jonny, dan aku bangga akan itu.Seks dengan suamiku selalu monoton, kecuali ketika kami selesai menonton video porno.
Jonny akan selalu merayuku untuk mengoral penisnya yang selalu kutolak mentah mentah.
Aneh memang, tapi aku tidak tau kenapa aku selalu merasa enggan memasukkan penis Jonny ke mulutku.
Pernah juga sesekali dua kali dia meminta aku untuk bersedia melakukan anal seks, yang selalu berakhir dengan aku tersinggung. Aku mempunyai beberapa sex toys yang kubeli di luar negri yang selalu menemaniku ketika suamiku tidak bisa memuaskanku. Jonny tidak mengerti akan hal itu.

Egg vibrator adalah salah satu favoritku di antara beberapa mainanku. Tiap kali aku masturbasi, aku selalu membayangkan berhubungan seks dengan orang lain selain Jonny.
Pak Yanto adalah object imajinasiku yang paling sering sejak dia bekerja di sini. Hampir setiap hari aku masturbasi sambil membayangkan satpamku ketika suamiku tertidur.Aku membayangkan betapa panjang dan besarnya penis pak Yanto, dan bagaimana dia akan membuatku melayani nafsu seksnya ketika suamiku sedang tidak di rumah. Di dalam fantasi seksku, aku selalu membayangkan duduk bersimpuh di depan pak Yanto dan aku membimbing penisnya dan menjejalkannya ke mulutku.

nikita mirzani
 Suatu hal yang selalu aku tolak ketika suamiku memintanya. Mukanya yang buruk dan giginya yang sedikit tongos serta perawakannya yang hitam dan besar selalu membuat pak Yanto menghiasi khayalanku. Selalu kubayangkan aku adalah seorang pelacur murahan yang sangat suka melayani pak Yanto.
Beberapa minggu setelah pak Yanto bekerja di tempat kami, Jonny harus pergi ke luar pulau untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Aku mengantarnya ke bandara, menunggu sampai dia tidak terlihat dan akhirnya akupun kembali pulang ke rumah.
pukul 7 malam aku baru sampai di rumah. Kupencet remote pagar dan aku parkir mobilku di dalam.
Pak Yanto membukakan pintu mobilku, aku bisa merasakan tatapannya yang tajam. Memang saat itu aku memakai rok mini dan blouse yang berbelahan dada rendah.
Walau aku tau pak Yanto bisa melihat kedalam bajuku saat aku hendak keluar dari mobil, aku tidak berusaha menutupinya.
Aku seakan bangga akan hal itu. Tak tau mengapa, aku bahkan tidak berusaha menutupi rokku saat aku keluar dari mobil.
Dan aku tau jelas saat kaki kananku menginjak lantai, pak Yanto dengan jelas melihat g-string merahku.
Darahku pun berdesir, aku bisa merasakan putingku mengeras. Bukannya segera turun dari mobil, dengan santainya aku mencabut kunci mobil dan selama sekian detik itu, pandangan pak Yanto tidak pernah lepas dari g-stringku.

Akupun masuk ke dalam, membiarkan pak Yanto mengawasi lenggak lenggok ku berjalan meninggalkan dia.
Di dalam kamar, aku sempat terheran heran dengan kejadian itu.
Ada apa denganku ini, mengapa aku bertingkah seperti seorang wanita murahan. Belum pernah sekalipun aku merasa terangsang seperti ini.
Aku meraba ke dalam g-stringku, basah. Aku pun melucuti baju yang kukenakan, dan masuk ke kamar mandi untuk berendam.
45 menit dengan cepat terlewati tanpa kusadari.
Kukeringkan tubuhku dan akupun kemudian rebahan di atas tempat tidur. Pikiranku kembali ke saat di mana aku memberikan tontonan g stringku ke pak Yanto. Keinginan untuk kembali menggodanya semakin kuat kurasakan.

Semakin lama memikirkan itu, semakin basah aku rasakan di antara kakiku. Aku berjalan ke arah cermin, kuperhatikan kedua payudaraku yang membusung menantang dengan kedua putingnya yang berwarna merah kecoklatan. Kuremas remas pelan kedua payudaraku.
Aku mendesah ketika tanganku secara tidak sengaja mengenai putingku. Ketika tanganku turun ke arah memek ku yang hairless, kurasakan lendir melekat di jemariku. Kujulurkan lidahku, kuoleskan lendir itu ke cermin di depanku, tepat di daerah lidahku yang sedang menjulur.

Kutatap tajam tajam kedua mataku di depan cermin, "Dasar lu Perek Murahan!!" kataku kepada bayanganku di depan cermin sambil kuremas remas kedua payudaraku. Kurasakan sengatan listrik di sekujur tubuhku ketika aku mengatai diriku sendiri. Tidak tau mengapa aku sangat suka mengata ngatai diriku sendiri sebagai wanita murahan."Ahhh...." aku mendesah waktu kupencet keras kedua putingku. Kudekatkan mukaku ke depan cermin, tanpa rasa jijik, kujilat cairan vaginaku sendiri yang melekat di cermin. Tingkah gila yang kulakukan benar benar membuatku semakin terangsang. Kusambar sebatang lipstick merah terang dan kusapukan di bibirku. Keingingan untuk kembali menggoda pak Yanto kembali menerpaku. Akupun mengendap endap turun sambil memakai mantel handuk berwarna putih, aku mengintip pos satpam dari celah pintu garasi. Aku cuma bisa melihat wajah pak Yanto yang tertidur.

 Akupun masuk ke dalam dan mengambil sebotol air dingin dan dengan pelan aku membuka pintu garasi. Aku berjalan tanpa menimbulkan suara ke arah pos satpam, tapi betapa kagetnya aku ketika aku melihat bahwa pak Yanto tidak memakai celana dan semua kancing bajunya terbuka. Ternyata pak Yanto sedang tertidur, setelah masturbasi. Aku masih bisa melihat spermanya yang berceceran di lantai masih belom mengering. Bukannya memalingkan muka, aku malah bengong melihat besarnya batang yg tergantung di antara kakinya. Bukan suatu hal yang lumrah bagiku melihat penis yang hitam, besar dan berurat. Jauh lebih besar dari penis suamiku.Tubuhnya yang hitam, perut dan dadanya yang terlihat keras, kumisnya yang tebal, dan jembutnya yang lebat membuatku semakin bingung harus berbuat apa. Aku tidak ingin berhenti melihat pemandangan yang tidak pernah kulihat sebelumnya, tetapi aku aku juga takut jika tiba tiba pak Yanto terbangun dan memergoki aku tengah melihatnya.

Tetapi, bukannya segera melangkahkan kakiku dan segera beranjak dari tempat itu, tanganku dengan sendirinya bergerak ke kedua buah dadaku. Sambil tetap melihat penis di hadapanku, aku mulai menyentuh diriku sendiri, kumainkan kedua putingku, kuremas remas payudaraku dari luar mantelku.
Akal sehatku menyuruhku kedua tanganku berhenti, tapi rangsangan demi rangsangan di payudaraku membuat akal sehatku kalah.
Kutarik pelan tali yang mengikat mantelku, kubuka mantelku dan kulemparkan ke teras rumahku. Sekarang aku telanjang di depan seorang lelaki yang bukan suamiku.
Angin malam menerpa tubuhku membuatku menggigil. Aku berjalan pelan mencoba tidak mengeluarkan bunyi apapun. Kuamati penis hitam itu dengan seksama.

Kepalanya yang hitam, dan batangnya yang panjang dan besar dan berurat, kedua buah pelir yang berukuran jumbo dan tergantung bebas, bulu jembutnya yang tebal seolah menunjukkan kejantanannya. Ketika kulihat ke lantai, banyak sekali ceceran sperma yang tumpah di sana.
Kuberanikan diri untuk masuk ke dalam pos satpam yang berukuran 1x2 meter itu.
Kurasakan bau sperma yang menyengat. Kulihat tetesan keringat mengalir dari dada pak Yanto. Dengan pelan, aku berjongkok di hadapannya. Wajahku menjadi sejajar dengan penisnya. Ketika kulihat dia masih tertidur, aku beranikan diri memegang kepala penisnya dengan ujung jariku. Ketika jariku menyentuh kepala penisnya, kulihat mata pak Yanto masih terpejam. Kudekatkan wajahku ke penis itu, kuhirup aroma sperma yang sangat menyengat. Ingin sekali kukecup pelan penis itu tapi segera kuurungkan niatku.

Pelan pelan kubuka lebar lebar kedua kakiku dan kugesek gesekkan telapak tanganku ke klitorisku.
Tangan kiriku menyapu puting payudaraku dari kiri ke kanan. Kunikmati permainan kedua tanganku sambil memejamkan mata.
Kutahan sebisa mungkin untuk tidak mengeluarkan suara rintihan. Baru kali ini aku bertindak senekat ini.
Rasa deg degan yang menyerangku membuatku semakin bersemangat. Beberapa kali aku harus sedikit membuka mataku untuk melihat ke wajah satpamku yang masih tertidur. Kubayangkan aku memberi satpamku itu oral sex yang belom pernah kulakukan kepada suamiku.
Beberapa waktu berlalu dan aku sampai di puncak orgasme ku. Kurasakan nafasku yang memburu, jantungku yang berdetak sangat kencang serta cairanku yang menetes di tanganku. Meskipun aku baru orgasme, aku masih sangat terangsang.
Hasratku yang belom terpenuhi membuatku ingin sekali lagi melakukan masturbasi.
Dengan pelan kutinggalkan pos satpam itu, mengambil mantelku dan segera masuk ke rumah. Kubuka pintu kamar dan kucari dildoku yang berukuran agak besar sambil melepas mantelku lagi. Kucium dildo itu dan kuarahkan menuju vaginaku.
"Aaahhhh" rasa nikmat mulai menjalari seluruh tubuhku ketika dildo itu menyentuh kugesek gesekkan ke memekku yang sudah basah.
Kuangkat dildo itu dan kumasukkan ke mulutku, kujilat jilat sambil kubayangkan penis pak Yanto.
Ketika batang dildo itu sudah hampir seluruhnya kulumuri dengan ludahku, kubimbing dildo itu ke pintu masuk lubang kenikmatanku sementara kurebahkan tubuhku di atas kasur. "Ogghhhhhkkkk....... Pak Yanto enak banget kontol bapak" kataku berfantasi sedang disetubuhi oleh pak Yanto sambil mendorong masuk seluruh dildo itu.
Kukeluar masukkan dildo itu pelan pelan sambil aku mendesah dan meracau. Aku mulai tenggelam dengan permainanku sendiri. Kupejamkan kedua mataku dan setelah beberapa saat, aku mulai berkata kata jorok membayangkan pak Yanto sedang menyetubuhiku.
Aku meracau memohon kepada pak Yanto untuk menyetubuhi pelacurnya keras keras.
"Iya pak.......Aaahhhhhh saya mau keluar pak!!! Perek bapak mau keluar..........." Kataku agak keras.
"Enakan yang aslinya Bu" Tiba tiba ada suara dari depanku ketika aku sudah sangat dekat dengan orgasme.
Betapa kagetnya aku ketika aku membuka mataku dan melihat pak Yanto sedang merekamku masturbasi dengan handycam. Pak Yanto
"Bapak, Se-sedang apa di sini??!!! Keluar pak!!! Keluar sekarang!!!" kataku sambil menutupi kedua payudaraku dengan tangan kananku dan daerah antara kakiku dengan tangan kiriku karena terkejut dengan kehadirannya.
Tiba tiba aku seperti diserang gelombang listrik yang sangat dahsyat ketika gelombang orgasme mulai melandaku.
Pantatku mengangkat dan kedua kakiku mulai terbuka kembali. Kepalaku sedikit terdongak ke atas dan mulutku mendesah tertahan.
Kulihat pak Yanto sedang merekam secara bergantian ke arah wajah dan vaginaku yang sedang tertusuk dildo.
"Enak ya bu masturbasi sambil bayangin saya? Aslinya lebih enak lagi bu. Dijamin bisa bikin ibu kelojotan!" katanya sambil memilin putingku membuatku semakin tersentak. Setelah orgasme itu reda, seluruh tulang dalam tubuhku seolah olah telah patah. Semua persendianku terasa copot satu persatu. Aku sudah tidak mempunyai tenaga untuk menepis tangan pak Yanto yang menggantikan posisi dildoku. Dicelupkannya dua jemari tangannya ke dalam lubangku yang telah basah kuyup. Ketika jari itu ditarik keluar, pak Yanto memberi komentar tentang jemarinya yang basah oleh lendirku sambil dimain mainkannya jemari itu di depan handycamnya. "Pak, to-tolong hapus rekaman itu pak!" kataku sambil menutupi tubuhku sekenanya. "Rekaman yang mana bu? Yang tadi ibu masturbasi di pos atau yang baru saja?" ucapannya membuatku kaget. "Ba-bapak merekam kejadian di pos?" tanyaku tidak percaya. "Iya lah bu, dari pertama saya kerja di sini juga saya suka ngerekam ibu diam diam, tapi ya hari ini saya lagi beruntung aja bu, bisa ngerekam ibu lagi masturbasi di pos dan di sini" katanya sambil nyengir. "Terus se-sekarang ba-bapak maunya apa? Saya bayar pak buat videonya, berapa yang bapak mau?" kataku bersikap tegar. "Wah bu, berapapun uang yang ibu bayar ke saya, saya yakin masih lebih tinggi jika saya tawarkan ke pak Jonny, bener kan bu?" katanya masih dengan senyum licik. Satpam kurang ajar, batinku dalam hati. Tapi memang salahku sendiri berani beraninya bermasturbasi di pos satpam di hadapan pak Yanto. "Bapak maunya apa? Tolong pak jangan jual video itu ke suami saya" pintaku. "Kalo ga boleh dijual trus saya dapat apa?" tanyanya sambil tersenyum makin lebar. "Pak tolong pak, saya lakukan apa saja tapi tolong jangan sampai video itu tersebar pak" pintaku sambil memohon. "Saya sih mau bu tidak menyebarkan video ini, tapi apa ibu mau menuruti perintah saya?" tanyanya penuh dengan ancaman. "Ma- Maksud bapak?" tanyaku tidak mengerti. "Ya contohnya kalo saya lagi pengen ngentotin ibu, ibu harus mau saya entotin kapan saja" katanya dengan santai. "Ta-tapi pak, saya ini istri orang" kataku. "Ya kan itu penawaran dari saya bu, kalo ibu ga mau ya kan ga apa apa. Saya juga tidak memaksa. Saya bisa jual ke orang lain kok bu" katanya membuatku shock. "Jangan pak!" sergahku. "Begini aja bu, kalo ibu masih bingung, saya kasih ibu waktu 15 menit untuk berpikir.
Kalo sudah ibu pikir matang matang, ibu bisa cari saya di pos saya" katanya sambil mematikan handy cam nya dan berjalan ke arah pintu.
Ketika pak Yanto sudah tidak terlihat lagi, aku segera terduduk lemas. Kusadari dildo ku masih menancap dengan tenangnya di dalam vaginaku. Kucabut dildo itu pelan pelan dan kutaruh di lantai. Apa yang harus kulakukan? Aku tidak ingin video itu sampai jatuh ke tangan suamiku.
Tapi aku juga tidak mau kalau aku harus melayani nafsu duniawi satpamku. Aku benar benar dalam masalah besar.
Akhirnya setelah kupikir pikir lagi, aku lebih memilih melayani satpamku daripada suamiku mengetahui kenakalanku.
nikita mirzani hot
Kusambar mantelku dan dengan agak tergesa gesa, aku menuruni anak tangga.
Kulihat pintu garasiku masih terbuka. Kutarik nafas dalam dalam mencoba meyakinkan diri jika ini adalah jalan yang terbaik. Kulangkahkan kakiku menuju pos satpam yang terletak di ujung rumah.
Kulihat pak Yanto tengah berdiri di ambang pintu pos dan terlihat senang melihatku berjalan ke arahnya.
"Gimana bu? Sudah ibu pikir baik baik?" tanyanya sambil mengarahkan handy cam itu ke wajahku.
"Sudah pak" kataku sambil menunduk malu.
"Jadi gimana bu? Boleh saya sebarkan video ini?" tanyanya.
"Jangan pak" sahutku.
"Lha trus gimana?" tanyanya pura pura bego.
"Sa-saya mau nurutin perintah bapak asal suami saya tidak tau ttg ini pak" kataku sambil menunduk.
"Semua perintah saya?" tanyanya.
"I-iya pak, semua" kataku tetap sambil menunduk.
"Kalo ibu menuruti perintah saya, ibu jadi budak saya dong? Emang ibu mau jadi budak saya?" tanyanya membuatku kaget setengah mati. Budak??? pikirku. Aku jadi budaknya??? pikiran itu terus berkecamuk di otakku. Ada rasa jijik ketika mendengarnya mengatakan itu. Tapi ketika aku membayangkan penisnya yang hitam besar itu, rasa jijik itu perlahan lahan hilang dari pikiranku. "Gimana bu? Ibu mau jadi budak saya?" tanyanya lagi.
"Ta-tapi pak, suami saya gimana?" pintaku.
"Ya ga gimana gimana toh bu. Ibu tetap layani saja suami ibu kayak biasa, tapi kalo suami ibu sedang tidak di rumah, ibu jadi milik saya. Gimana?" katanya sok diplomatis.
Aku hanya bisa mengangguk tanda setuju mendengar itu.
"Apa bu? Saya ga dengar" sahut pak Yanto.
"Iya pak, saya mau" kataku.
"Ayo bu, sekarang buka mantelnya" perintahnya.
Kubuka satu satunya tali pengikat yang ada di mantelku, pak Yanto segera membuangnya ke lantai. Kemudian pak Yanto mendekatkan kameranya ke wajahku. Ketika aku hendak menundukkan wajahku, pak Yanto segera menahannya daguku dengan tangannya dan mengangkat wajahku.
Tanganku secara otomatis menutupi payudara dan vaginaku.
"Lipstick ibu tebel kayak perek di jalanan" katanya singkat.
"Lihat toketnya dong bu" perintahnya ketika dia menyorot kedua payudaraku yang kututupi dengan tanganku.
Dengan pelan kuturunkan tanganku dari payudaraku, tapi Pak Yanto segera menarik turun tanganku. Kedua payudaraku terpampang dengan bebas.
Pak Yanto merekamnya dari berbagai sudut. Ditaruhnya kedua tanganku ke samping tubuhku, dan dia berkeliling memutariku sambil merekam setiap senti tubuhku. "Baru kali ini saya lihat toket segede ini tapi ga melorot. Ini asli bu?" tanyanya.
"A-Aasli pak" kataku.
"Ooo... Emang beda ya perek rumahan sama perek jalanan. Bener ga?" pak Yanto bertanya sambil melihat mataku.
Karena aku tidak menjawab, pak Yanto membetot putingku dengan keras.
"Ahhh Ampun pak" kataku sambil menahan tangan pak Yanto.
"Oh ga bisu ternyata" sindirnya.
"Ikut saya!" perintahnya.
Segera kulangkahkan kakiku mengikutinya dari belakang. Pak Yanto yang masih berpakaian lengkap, mengambil mantelku dan berjalan masuk ke rumahku lewat pintu garasi. Ketika sampai di ruang keluarga, dia segera melemparkan mantelku ke tanah. Direbahkannya tubuhnya di sofa sambil tangannya memberi aku kode untuk duduk di karpet di depannya.
Kulihat pak Yanto masih tersenyum senyum penuh kemenangan melihatku duduk bersimpuh di hadapannya.
"Buka celana saya!" perintahnya tegas.
Dengan berat hati, tanganku mulai membuka celana pak Yanto.
Penis hitam itu segera muncul dari balik celananya. Setelah dua kali aku melihatnya dari jarak dekat, rasa kagum masih tersirat di mataku.
Betapa hitam dan besarnya penis di depanku itu. Kurasakan nafasku mulai memberat ketika aroma penis itu mulai menusuk hidungku. Bulu kemaluan yang menghiasi pangkal batangnya seperti hutan hitam yang sangat lebat. Kulihat kedua buah pelirnya yang besar ditumbuhi bulu bulu membuatku menelan ludah.
"Nunggu apa?" katanya menantang.
Kupegang batang itu dengan tanganku dan kurasakan temperatur batang itu yang lebih panas dari tanganku.
Terlihat jelas kukuku yang selalu kurawat dengan manicure, kulit tanganku yang putih sangat kontras dengan batangnya yang hitam. Kukocok perlahan dan kulihat batang itu mulai membesar secara teratur. Mulutku menganga ketika penis itu sudah membesar melebihi milik suamiku.
Batang itu berdiri dengan keras, sungguh sangat besar. Kulihat di ujung penis itu ada setitik cairan bening. Kulihat juga ada otot otot yang menonjol di sekeliling batang penis itu. Ketika kukocok batang itu dengan tanganku, pak Yanto melepaskan rintihan tertahan. Kucoba memegangnya dengan kedua tanganku.
Setelah kedua tanganku melingkari penis itu, kulihat kepala penis itu tidak tergenggam olehku. Berbeda dengan milik suamiku yang hanya butuh satu kepalan tanganku.
Kulihat pak Yanto masih merekam setiap gerakanku. Menikmati mimik wajahku yang menyiratkan kekaguman.
Ku elus pelan batangnya dari atas ke bawah dengan tanganku, kuraba dan kumainkan kedua pelirnya tanpa disuruh. Penis itu sungguh membuatku kagum dan aku yakin satpamku tau akan itu. Tanpa kusadari, aku mulai menggeleng gelengkan kepalaku dan mulai mengocoknya dengan teratur.
"Mulutmu belom pernah dimasuki kontol kan?" tanyanya.
"Be-belom Tu-Tuan" kataku gugup.
"Wah mulutnya masih perawan" katanya di dekat handy cam sembari tertawa.
"Sekarang bilang ke kamera kalo mulut kamu akan segera diperawani oleh kontol saya" katanya dengan senyum menungging.
Dipermalukan seperti itu membuat bulu tengkukku berdiri. Sambil tetap kupegang penis itu dengan tanganku, aku menatap ke kamera lekat lekat.
"Sebentar lagi, mulut saya akan segera diperawani oleh satpam saya" kataku kepada kamera itu.
"Kurang menantang, kurang lengkap, kurang senyuman dan kerlingan mata. Ulangi!!!" bentaknya.
"Ba-baik Tuan" jawabku tergugup.
"Sebentar lagi, mulut saya yang belom pernah dimasuki oleh kontol suami saya akan segera diperawani oleh kontol satpam saya" kataku dengan tersenyum di bagian akhir dan mengerlingkan mataku. Kurasakan angin dingin meniup punggung dan tengkukku.
"Cium kepalanya!"
Kuarahkan penis itu ke mulutku dengan tanganku. Kukecup pelan ujung kepalanya, dan kurasakan lendir yang tadinya berada di ujung penis itu segera berpindah ke bibirku.
"Keluarin lidahmu dan jilati dari bola naik ke kepala!"
Kukeluarkan lidahku, dan kudekatkan wajahku ke penis itu. Dengan jarak sedekat itu, aroma menusuk penis itu segera memenuhi hidungku. Kurasakan kedua putingku mengeras bersamaan lidahku menyentuh kulit keriput di buah pelirnya.
Kurasakan rasa asin mulai menghinggapi lidahku. Kuangkat kepalaku ke atas dengan lidahku masih menempel di kulitnya hingga aku sampai ke ujung kepalanya.
"Salah!!! Perek Goblok!!!" Satu tamparan keras mendarat di pipiku. Tidak terlalu keras untuk membuatku terjatuh tapi kurasakan cukup panas di wajahku.
"Keluarkan lidahmu!!!" bentaknya sambil berdiri dan menjambak rambut belakangku.
Sekarang penis itu berada tepat di depanku. Bergoyang goyang di depan mataku.
Menyebarkan aroma yang menusuk hidungku. Kujulurkan lidahku keluar dan dengan kasarnya ditariknya kepalaku sehingga buah pelirnya masuk ke dalam mulutku.
Masih dengan lidah yang terjulur, ditekannya kepalaku ke penisnya dan ditariknya rambutku ke atas, membuat seluruh lidah dan mulutku merasakan rasa penisnya.
"Kayak gitu!!! Ulangi sendiri!!!" kembali dia membentakku sambil mengacungkan tangannya yang terbuka.
Kujulurkan lagi lidahku dan kuulangi menjilati buah pelir itu ke atas sampai ujung kepalanya.
"Pinter!!!" katanya sambil mengelus kepalaku.
Anehnya aku merasa sedikit bangga ketika pak Yanto memujiku. Kurasakan ludahku yang terasa asin memenuhi mulutku.
"Enak kan rasa kontol saya?" katanya dengan nada mengancam.
"E-Enak Tuan" kataku kesulitan dengan ludah yang memenuhi mulutku.
"Telan!" ujarnya pelan namun penuh otoritas.
Gluk! Gluk! Karena ada rasa jijik yang hinggap di hatiku, aku sedikit kesulitan menelan ludahku sendiri.
"Buka mulutmu!" katanya lagi setelah melihatku tenggorokanku bergerak gerak.
Kubuka mulutku dan kurasakan jarinya masuk ke dalam mulutku dan memain mainkan lidahku kututupkan bibirku dengan jarinya masih di mulutku.
"Perek saya ga ada yang meludah!!! Selalu telan!!! Ngerti?" tanyanya dengan mata melotot.
Dengan jarinya yang masih menyumpal mulutku, aku hanya bisa menganggukkan kepalaku.
"Pinter" katanya sambil menarik jarinya pelan pelan dan kembali duduk di sofa.
"Sekarang jilati kontol saya, dan masukkan ke dalam mulutmu dan sedot sekuat tenaga! Saya ingin kamu pikir pakai otak kamu sendiri gimana caranya muasin saya dengan mulutmu! Bisa kan?" pertanyaan itu kujawab dengan anggukan.
Ketika tanganku meraih penis itu dan mengarahkannya ke mulutku, pak Yanto segera menepis tanganku dan menaruh kedua tanganku di belakangku. Aku mengerti apa yang diinginkannya. Kukecup pelan buah pelirnya satu persatu dan kujilati batang penisnya seakan akan aku sedang menjilati es krim. Ketika lidahku sampai di ujung penisnya, kukecup kepalanya dan kutekan kepalaku kebawah.
Penis itu segera menyeruak masuk ke dalam mulutku. Kunaik turunkan kepalaku secara perlahan memberika kenikmatan kepada sang pemilik batang itu.
Kucoba memasukkan seluruh penis itu ke dalam mulutku, tapi aku hanya bisa memasukkan kurang lebih setengah dari keseluruhan panjangnya. Pak Yanto terus mendesah nikmat sambil mengarahkan kameranya ke wajahku.
Dihentikannya gerakan kepalaku yang maju mundur dengan dijambaknya rambutku.
Kutatap kedua matanya yang mengisyaratkan sedikit ketidakpuasan. Ditekannya kepalaku kuat kuat hingga penisnya menekan nekan tenggorokanku, membuatku serasa ingin muntah. Air liurku segera menetes ke luar turun ke buah pelir pak Yanto. Kedua tanganku mencoba mendorong tubuhku menjauh, tetapi pak Yanto semakin kuat menahan kepalaku dan menyodokkan penisnya lebih keras. Pak Yanto tau aku sudah kesulitan bernafas saat kedua bola mataku melotot meminta ampun. Ditariknya penis itu dari mulutku dan kulihat banyak sekali lendir mulutku yang menempel di sekitarnya.
Dengan nafas yang tersenggal senggal, dan rasa penis memenuhi mulutku, rasa mual kembali menderaku. Kucoba menarik nafas dalam dalam untuk mengurangi rasa mual, tapi ketika aku menelan liurku, rasa mual kembali menerpaku. Dijambaknya rambutku dan dimasukkannya pelirnya ke dalam mulutku.
Kemudian ditampar tamparkannya penis itu ke wajahku. Aku merasakan basah di wajahku yang terkena pukulan itu. "Yang rileks tenggorokannya" katanya pelan.
Dibimbingnya kepala penis itu masuk ke dalam mulutku dan dimasukkannya penis itu pelan pelan hingga menyentuh ujung mulutku. "Rileks, rileks" katanya lagi.
Kucoba untuk tidak melawan dan memejamkan mataku.
Segera kurasakan penis itu menerobos masuk ke tenggorokanku. Membuatku kaget dan merinding. Hidungku menyentuh perutnya dan bulu jembutnya seakan akan menggelitik wajahku.
Ditariknya penis itu memberiku kesempatan bernafas dan kemudian ditusukkannya lagi ke dalam mulutku. Hal itu berulang ulang terus selama beberapa menit.
nikita mirzani sexsi
"Apa ibu tau jika ibu ini mempunyai bakat untuk memuaskan banyak lelaki? Ibu adalah wanita pertama yang mampu menelan seluruh kontol saya di hari pertama." katanya dengan penisnya masih tertancap di tenggorokanku.
Ditariknya penis itu dan dielus elusnya kepalaku. Dimasukkannya kepala penis itu ke mulutku lagi dan menyuruhku menghisap penis itu kuat kuat. Ada perasaan aneh dan menyenangkan ketika kuhisap penis itu sampai kedua pipiku tertarik ke dalam. Kurasakan vaginaku mulai basah dan berdenyut denyut. Tidak kusangka sangka, aku mengalami orgasme kecil ketika sedang mengoral penisnya.
Aku melepaskan desahan tertahan, tapi cukup jelas untuk menunjukkan aku sedang mengalami orgasme. Ditariknya penis itu dari mulutku dan dipukulkannya ke wajahku yang sedang merem melek.
“Perek!” ujarnya menyindirku sambil mengocok penisnya di depan wajahku.
Setelah orgasme ku mulai mereda, kuarahkan wajahku dan tanpa perlu dikomando, aku menjilati buah pelir pak Yanto dan mulai mengulumnya. Kuhisap kuat kuat secara bergantian kedua bola itu sementara pak Yanto semakin cepat mengocok penisnya.
“Buka mulutmu lebar-lebar!”ujarnya sambil mengerang.
Kubuka mulutku dan pak Yanto segera memasukkan kepala penisnya ke dalam mulutku dengan tetap mengocok batangnya lebih cepat. Dengan sedikit mengerang, aku bisa merasakan tubuh pak Yanto yang sedikit mengejang.
Kurasakan beberapa kali penis pak Yanto menyemprotkan lahar putih kental ke dalam mulutku. Rasa asin yang mendominasi segera merebak memenuhi setiap tempat mulutku.
Kuatupkan kedua bibirku menutup kepala penisnya yang sedang ejakulasi. Tak kuduga duga, secara tiba tiba aku diserang gelombang orgasme lagi yang lebih besar. Aku mengerang dan mengejang secara tertahan. Ditariknya secara perlahan penis itu sampai terlepas dari katupan bibirku.
Kurasakan sperma itu berkumpul di dalam mulutku. Sangat kental, asin dan ada rasa gurih.
“Buka mulutmu, awas jangan ada yang tumpah!” katanya sambil menyorotkan kameranya ke mulutku.
Kubuka mulutku dan kutunjukkan sperma yang bercampur ludahku.
Jari pak Yanto segera masuk ke dalam mulutku dan mengobok obok mulutku yang terbuka lebar. Kemudian ditariknya jari itu dan dioleskannya lendir yang menempel di jarinya ke wajahku sampai bersih.
“Telan!”
Tanpa perasaan tertekan kutelan sperma pak Yanto yang terasa lengket di tenggorokanku sambil menutup mataku. Karena lengket sekali, aku bisa merasakan sperma itu sudah masuk seluruhnya setelah beberapa kali aku menelan ludah.
“Peju saya enak kan?” katanya sambil tersenyum.
“Enak Tuan” jawabku sambil mengelap mulutku dengan tanganku.
“Terima kasihnya mana?” sindirnya.
“Terima kasih Tuan untuk pejunya” kataku meskipun aku merinding mendengarnya.
“Bagus, itu baru namanya perek pinter” katanya lagi sambil mengelus kepalaku.
“Kamu cium suamimu pake mulut itu?” katanya tiba tiba “Mulai sekarang mulut kami itu punya fungsi lain. Tau fungsinya apa?” “I-iya Tuan, saya tau” kataku. “Apa?!?! Perek” bentaknya.
“Mu-mulut saya ini untuk, untuk menghisap kontol” kataku tak percaya dengan ucapanku.
“Bukan kontol suami kamu kan?” tanyanya menghinaku.
“Bukan kontol suami saya Tuan” kataku lagi.
“Bagus!!! Sekarang siap kan merasakan kontol saya di memekmu?” kembali dia bertanya sambil mengelus pipiku.
Masih belom puaskah orang ini? Tanyaku dalam hati. Kulihat penisnya masih berdiri tegak setelah menumpahkan lahar yang begitu banyak. Rasa kagumku semakin bertambah. Ditaruhnya handy cam itu dan kemudian diangkatnya tubuhku dan ditidurkannya aku di sofa. Dibuka lebar kedua kakiku dan diposisikannya kepala penis itu di antara kedua kakiku. Dipegangnya batang itu dan disapukannya kepalanya ke bibir vaginaku membuatku mendesah. Dengan sekali hentakan, kepala penis itu telah amblas masuk ke dalam memekku. Kurasakan batang besar itu seperti hendak merobek memekku.
Kugigit bibir bawahku menahan sakit, dan pak Yanto dengan pelan mendesak penis itu semakin masuk ke liang surgaku.
“Seret!” ujarnya meracau “Beda sama perek di jalanan. Kontolku serasa dipijat pijat..... Emang bakat jadi perek!” Hatiku berdesir mendengar aku disamakan dengan penjaja cinta di pinggir jalan. Terbesit rasa malu tapi aku semakin terangsang mendengar pelecehan itu. “Oohh pak, pelan pelan pak, punya bapak besar banget” kataku memohon.
Tanpa menghiraukanku, pak Yanto segera mendorong seluruh batang itu hingga tenggelam ke dalam memekku.
Mataku mendelik kaget saat rasa sakit menerjang tubuhku. “Paaaak ampun, pak!!!” teriakku.
Dicabutnya penis itu sampai terlepas dari vaginaku. Nafasku mulai tersenggal , tapi belom sempat aku menarik nafas lagi, dengan keras, pak Yanto segera menghujamkan penisnya ke dalam lubang kenikmatanku lagi. “Oogghhhhh pak!” kurasakan rasa nikmat bercampur sakit ketika penis itu menghujam memekku untuk kedua kalinya. Kejadian itu diulanginya beberapa kali sampai kemaluanku menjadi sangat sangat basah. Kemudian, ditancapkannya penis itu dalam dalam dan dibiarkannya di sana.
“Enak kan kontol satpam atau kontol suami kamu?” tanyanya.
“Enakan kontol bapak” jawabku asal dengan mata terpejam.
“Perek pinter.” Sekali lagi dielusnya kepalaku dan sekali lagi kurasakan kebanggaan di diriku.
Digoyangnya pelan batang itu membuatku merem melek sambil mendesah perlahan. Memekku terasa sangat penuh, dan setiap dorongan penis itu membuat bibir vaginaku ikut terdorong masuk. Hal ini belom pernah terjadi saat aku melayani suamiku. Tanpa sadar, kedua tanganku bergerak ke kedua putingku dan memain mainkannya. Kupilin pilin kedua putingku sambil kutarik tarik saat pak Yanto menusuk nusuk pelan liang senggamaku. Desahanku semakin keras ketika pak Yanto secara tiba tiba menggenjotku dengan keras.
“Ohh.....Pak..... entot saya pak....... iya pak..... terus pak entot saya” racauku.
“Memekmu sempit. Jarang dipake ya sama suami?” tanyanya.
“Kon-Kontol bapak besarrrr........” jawabku.
Ditepisnya kedua tanganku dan diraihnya kedua putingku dengan jemari jemarinya. Dipencetnya putingku keras keras sambil dipilinnya dan ditarik tarik. “Oohhh pakk...... Terus pak masukin kontol bapak ke memek saya pak!!” kataku sambil tanganku menyodorkan kedua payudaraku ke atas seakan akan mengijinkan pak Yanto berbuat apapun terhadap keduanya.
Ketika aku sudah berada di ujung kenikmatan sekali lagi, tanganku membuka kakiku lebih lebar dan menahannya terbuka.
Tapi pak Yanto yang melihatnya malah hanya tersenyum lebar dan menghentikan tusukannya. Aku yang sudah gelap mata segera memaju mundurkan pinggulku mencari sela sela kenikmatan. “Katanya tadi ga mau selingkuh?” pertanyaan nya mengejekku “Udah ke enakan malah goyang sendiri” “Kontol bapak enak” kataku. Meskipun diejek seperti itu, aku tidak menghentikan gerakan memaju mundurkan pinggulku.
Aku benar benar sudah gelap mata.
“Dasar lu perek murahan!!!” umpatnya.
“Iya pak...... Ooohhhhhh.......... Saya perek murahan...... Saya pelacur...... Entot memek saya sekarang pak” kataku sudah tidak bisa menahan nafsu.
Ditancapkannya penis itu dalam dalam yang langsung membuatku seperti di awang awang. Kurasakan dinding vaginaku berdenyut denyut memijat penis itu dan cairanku keluar seperti banjir bandang. Dihisapnya puting kananku kuat kuat yang kusambut dengan memeluk kepalanya dan menekannya ke payudaraku. Dihisapnya secara gantian kedua putingku membuatku semakin larut ke dalam orgasmeku.
Ketika orgasmeku mereda, dicabutnya penis itu dan diarahkannya ke mulutku. Kulihat banyak sekali lendirku yang menempel di penis itu membuatnya terlihat berkilau diterpa sinar lampu. Tanpa disuruh oleh pak Yanto, kubuka mulutku dan kuhisap batang yang telah memberiku kenikmatan dan tanpa ragu ragu kusapukan lidahku ke penis itu seakan akan hendak membersihkannya. Pak Yanto mengelus elus lagi kepalaku.
Sekali lagi aku merasa sangat bangga, aku tidak mengerti mengapa aku sangat menyukainya jika pak Yanto memujiku.
Dibaliknya tubuhku dan dibukanya kakiku lebar lebar. Bagian atas tubuhku diletakkan di sandaran kursi.
Kurasakan penis pak Yanto sudah siap di depan lubang surga ku. Dengan satu hentakan keras, penis itu segera menerobos memekku yang masih basah.
Nikmat sekali rasanya ketika ujung penisnya terasa menyentuh rahimku.
“Ohh..... Mantap nih memek” ujarnya pelan.
Dihujam hujamkannya penis itu dengan kasar seolah olah sedang meluapkan amarahnya kepadaku. Aku menikmati setiap hujaman penis itu. Ditariknya segenggam rambutku dengan kasar sambil ditusukkannya penis itu dalam dalam di memekku.
Aku mengerang penuh dengan kenikmatan sambil mendorong pantatku ke arah pak Yanto. Dilepaskannya jambakan rambutku dan tiba tiba pak Yanto menampar kedua pantatku dengan keras secara bergantian. Kurasakan pantatku memanas akibat tamparan tamparannya. Namun itu membuat libidoku semakin meningi.
Kulepaskan jeritan manja setiap kali telapak tangannya mendarat di pantatku.
Setelah puas menampar pantatku, dijambaknya rambutku ke belakang dengan keras sampai tubuhku terangkat dari kursi sementara penisnya masih terbenam di memekku. Kedua tanganku memegang kedua payudaraku dan memain mainkan putingku. Aku benar benar sudah berubah menjadi perempuan binal. Aku sudah tidak perduli lagi dengan apa yang akan kuperbuat. Penis hitam pak Yanto yang perkasa sudah mengubah hidupku.
Aku tau aku akan melakukan apa saja untuk mendapatkan kepuasan ini.
Mulut pak Yanto mendekat ke telingaku, dijilatinya daerah belakang telingaku dan diciuminya leherku.
Aku semakin menjadi, kuturunkan tangan kananku dan kumainkan clitorisku. Mulutku menganga lebar.
“Mau kan melayani bapak kapan saja bapak mau?”bisiknya di telingaku.
“Mau pak...... Entot saya kapan pun bapak mau” kataku setengah berteriak.
Tanpa kata kata, ditariknya penis itu dan dihujam hujamkannya lagi ke liang senggamaku.
Semakin lama semakin cepat, semakin kasar. Kursiku bergoyang goyang menandakan tidak kuat menahan beban tubuh kami berdua.
Tiba tiba dengan kasarnya diremasnya kedua payudaraku dan kurasakan sperma pak Yanto yang terasa hangat menyembur dengan derasnya di dalam vaginaku. Ketika semburan itu belom berhenti, dinding vaginaku berdenyut dengan kencang menandakan aku kembali dilanda orgasme untuk yang kesekian kali pada malam hari ini.
“Ohhhhhhh......hohhhhhh......... DASAR PEREK” teriaknya kencang sambil meremas payudaraku dengan keras.
“IYA PAK!!! SAYA PEREK!!! KONTOL BAPAK ENAK!!!!” balasku tidak mau kalah.
Tubuh kami mengejang bersamaan. Kurasakan keringatku sudah mengalir seperti sungai sedangkan tubuh pak Yanto yang juga bermandikan peluh bergetar merasakan orgasme nya. Dilepaskannya jambakan rambutku membuat tubuhku langsung rebah ke sandaran kursi.
Kurasakan tubuhku sudah sangat lemas dan nafasku memburu. Kurasakan pak Yanto menarik lepas penisnya dari vaginaku dan berjalan memutar menghampiri kepalaku.
Disodorkannya penis itu ke wajahku, dan tanpa disuruh lagi, segera kubuka mulutku dan kunikmati mengulum penis itu.
Kubersihkan penis itu dari lendir lendir yang menempel. Kujilati setiap centi penis itu dan tidak lupa kukecup kepala penis itu sebagai ucapan terima kasihku.
Pak Yanto yang melihat itu pun tersenyum kegirangan. Ditepuk tepukannya telapak tangannya ke kepalaku dan dielusnya kepalaku”
“Ga nyesal kan jadi budak bapak” tanyanya ketika aku mengecup penisnya.
Aku hanya menggelengkan kepala dengan lemas. Tak kusangka, libidoku terpuaskan oleh penis satpamku. Kurasakan ada cairan mulai mengalir turun ke paha dalamku.
Dengan perasaan malas, aku segera bangkit dan berjalan menuju kamar mandi yang segera diikuti oleh pak Yanto.
Di dalam kamar mandi, aku segera berjongkok di toilet dan kulihat sperma itu menetes turun.
Kutengadahkan kepalaku dan kulihat pak Yanto yang tersenyum kepadaku. Kubalas senyuman itu dan kuangkat tubuhku berdiri di samping pak Yanto. Digandengnya tanganku menuju ke shower yang segera kunyalakan.
Layaknya seorang istri, aku segera membantu pak Yanto untuk mandi. Seperti seorang pelacur, kutuangkan sabun ke dadaku dan kemudian kugerakkan payudaraku ke seluruh tubuh pak Yanto. Kusabuni dadanya yang tegap dan terus turun ke kemaluannya yang menggantung. Kuhimpit penis itu dengan payudaraku dan mengurutnya pelan, dan tidak lupa kuberi perhatian ke kedua buah pelirnya yang menggantung dengan bebas dengan tanganku.
Payudaraku kugerakkan turun ke arah kedua pahanya. Akhirnya aku berjongkok di hadapannya dan kugerakkan payudaraku naik turun untuk memberikan sabun ke kedua kakinya.
Tidak lupa kuberi perhatian kepada punggung dan tangannya.
Aku heran dengan tingkahku sendiri, aku bahkan tanpa rasa jijik memasukkan tanganku ke antara pantatnya untuk membersihkan tempat itu. Dipilinnya kedua puting payudaraku setelah badan kami penuh dengan busa.
Aku hanya tersenyum ketika pak Yanto melakukan itu. Ditariknya tubuhku ke bawah pancuran air dan segera membasuh tubuh kami.
Setelah seluruh busa pada tubuh kami hilang, kuputar kran air ke posisi off.
Kuambil handuk yang biasanya kupakai, dan kukeringkan tubuh pak Yanto dulu dan kemudian tubuhku. Dituntunnya aku keluar kamar mandi setelah kuletakkan handuk kembali ke tempatnya.
Pak Yanto melemparkan pakaiannya ke arahku dan kemudian duduk di sofa. Kupakaikan baju pak Yanto, dan sebelom aku sempat memakaikan celananya, telepon rumahku berbunyi.
“Kringggg” pak Yanto segera menyuruhku mengangkat telpon itu yang dengan langsung kurespon.
“Halo” kataku.
“Halo, belom tidur say” tanya suamiku.
“Oh, belom ko” kataku senormal mungkin.
“Ya udah jangan tidur malem malem, apalagi tiap pagi kamu jogging. Kecapekan malah sakit” ujarnya penuh perhatian. “Oh iya ko, kapan pulang?” tanyaku dengan perasaan bersalah. “Paling cepat sih 1 minggu kayaknya” ujarnya lagi.
“Kok lama?” kataku sudah tidak bisa konsentrasi karena air mataku mulai merembes ke pipiku. “Iya nih banyak kerjaannya. Rumah gimana? Aman kan dijaga pak Yanto?” pertanyaanya membuat nafasku sesak.
“A-Aman kok ko” kataku singkat.
“Kalo butuh apa aja, minta bantuan pak Yanto aja, ga perlu malu” katanya membuatku seperti tertohok.
“Iya ko” kurasakan air mataku masih mengalir di kedua pipiku.
“Ya udah, cepet tidur, biar ga sakit” katanya penuh perhatian.
“Iya ko, Koko juga hati hati di sana” kataku lagi.
“Bye” katanya sambil mengakhiri percakapan.
Kututup gagang telpon itu dan aku langsung menangis sesenggukan dan perasaan bersalah menghantuiku. Aku memandang pak Yanto yang berjalan mendekat kepadaku. Penisnya yang masih lunglai itu bergerak ke kanan dan ke kiri.
Diusapnya air mataku yang menetes di kedua pipiku dan aku hanya diam saja.
“Sudahlah bu, ga usah ngerasa bersalah” katanya membela diri “Saya yakin pak Jonny juga pasti main cewek di luaran.”
“Maksud bapak suami saya selingkuh?” tanyaku tidak percaya.
“Ya namanya juga lelaki bu” ucapnya enteng.
“Tidak mungkin pak. Suami saya tidak mungkin selingkuh” kataku berapi api.
“Kalo sampai suami ibu selingkuh di belakang ibu gimana?” tantangnya.
“Bapak jangan menuduh suami saya sembarangan ya!!” ucapku sambil marah.
“Apa ibu menuduh saya berbohong?” tanyanya dengan nada mengancam “Jika saya bisa buktikan pak Jonny selingkuh di belakang ibu, ibu bisa kasih saya apa?”
“Tidak mungkin pak” kataku masih bertahan.
“Apa ibu marah jika suami ibu selingkuh?”
“Iya pak tapi suami saya tidak akan selingkuh” kataku masih ngeyel.
“Tidak mungkin ya bu?” tanyanya sambil mendengus.
Diambilnya handy camnya dan dipencet pencetnya beberapa tombol.
Kemudian dengan senyum menungging, pak Yanto menunjukkan foto suamiku sedang menggandeng seorang wanita pribumi dengan dandanan menor berjalan masuk ke sebuah hotel.
Bukan cuma satu foto, melainkan ada banyak sekali foto itu dengan beberapa wanita berbeda. Bahkan aku melihat ada seorang wanita yang sedikit lebih tua dariku yang terfoto paling banyak dengan baju berbeda. Sungguh kenyataan yang sangat pahit.
“Ini yang ketauan sama saya bu di dalam kota. Kalo di luar kota ya saya ga tau lagi” katanya.
Aku masih sulit mencerna kenyataan ini. Aku selalu merasa suamiku orang yang sangat setia kepadaku. Tapi aku tidak menyangka sudah begitu banyak wanita yang ditidurinya. Amarahku mencapai ubun ubun.
Ingin sekali aku memukulnya ketika dia pulang, tapi aku lebih ingin membalasnya. Hatiku benar benar sakit dikhianatinya.
“Pak, tolong rekam saya” kataku kepada pak Yanto yang sedikit kebingungan dengan maksudku.
Dinyalakannya handy cam itu dan disorotnya ke wajahku.
Kuingat ingat lagi tentang perselingkuhan suamiku dengan begitu banyak wanita membuat aku semakin berani.
“Halo, saya nikita mirzani. Suami saya, Jonny, tidak bisa memuaskan birahi sex saya karena kontolnya terlalu kecil. Jadi saya minta tolong kepada satpam saya yang mempunyai kontol jauh lebih besar dari miliknya. Enak sekali kontolnya.
Jauh lebih enak dari kontol suami saya. Saya merekam video ini hanya untuk bukti bahwa mulai hari ini, saya akan menjadi budak satpam saya, pak Yanto, tanpa paksaan dari siapapun.
Saya akan menuruti semua perintahnya, dan akan selalu memberinya prioritas lebih dulu dari suami saya.
Saya akan memberikan tubuh saya untuk memberikan kepuasan kepada majikan saya. Saya menyerahkan seluruhnya tubuh ini untuk digunakan pemilik saya sebagai apapun yang dianggapnya benar.
Dan saya akan dengan senang hati belajar untuk menjadi seorang budak yang baik.” Aku mengucapkan itu dengan senyuman nakal dan kerlingan mata. Tidak ketinggalan kumainkan lidahku ke kiri dan ke kanan untuk memberikan suatu kesan nakal.
Tidak lupa di akhir video, kuperlihatkan aku sedang mengecup kepala penis pak Yanto dan mengucapkan terima kasih atas kenikmatan yang diberikannya.
“Bagus banget!!!” kata pak Yanto sambil mengacungkan jempol. “Sudah siap menjadi budak saya?” tanyanya.

“Sudah Tuan” kataku sambil tersenyum.
“Ayo naik ke kamar ibu dan saya akan memilihkan baju yang cocok buat makan malam kita bu” katanya sambil tersenyum mesum.
“Baik Tuan” kataku sambil tersenyum manis dan tanpa malu malu menggandeng tangannya dan menariknya menaiki tangga menuju kamar tidurku.
Si Dewi Penggila Hasrat
Sudah 2 minggu ini Dewi aktif berangkat kerja di perusahaan suaminya, dan selama 2 minggu itu Dewipun mendapatkan kepuasan melakukan persetubuhan dengan suaminya dan Erwin, selama 2 minggu ini Dewi melayani mereka berdua di kamar hotel Erwin, berbagai posisi telah mereka lakukan, hanya satu posisi yang belum dilakukan oleh mereka yaitu Double Penetration, karena baik Hendro maupun Erwin menjaga agar istrinya tidak kaget jika mereka melakukan DP, mereka takut Dewi menjadi marah dan tidak mau meladeni mereka lagi, tapi mereka tidak mengetahui bahwa Dewi sudah berpengalaman disodomi dan disodok vaginanya berbarengan, dan juga mereka tidak mengetahui bahwa Dewi sangat menginginkan kedua penis mereka itu masuk berbarengan di kedua lubangnya, tapi Dewi juga tidak mau Hendro dan Erwin curiga bahwa dia sudah pernah melakukan hal tersebut, jadi Dewi tidak pernah meminta hal tersebut.
cewe nakal
Rumahnya sekarang sudah memakai Satpam sendiri, suaminya sengaja menggunakan Satpam untuk menjaga rumahnya, Hendro merekrut 4 orang Satpam untuk menjaga rumahnya siang-malam, ke 4 orang satpam itu secara bergiliran berjaga siang dan malam, alasan Hendro kepada istrinya agar Dewi menjadi aman saat pulang kerja kalau dirinya sedang tidak berada di Jakarta, tapi alasan utama Hendro adalah agar Dewi tidak dapat membawa pulang lelaki dan ngentot dengan lelaki lainnya, tapi Hendro tidak tahu bahwa Dewi bisa saja melakukan persetubuhan dengan para supir, jongosnya dan anak tirinya, Hendropun sudah menginstruksikan para satpamnya agar memberi laporan kepada dirinya apabila istrinya membawa lelaki ke rumah mereka.
Hasan adalah yang paling tua diantara satpam itu usianya sudah 45tahun dan dia bertindak sebagai kepala regu dari mereka, tampangnya memang agak seram, tapi orangnya ramah dan murah senyum, dan Hasan juga sangat tegas dan disiplin, kemudian ada Marno dan Dayat yang berusia 36tahun, tampang mereka juga jauh dari cakep, dan yang terakhir adalah Asep, usianya baru 30tahun, ke 4 satpam itu sudah berkeluarga semua, tapi yang paling menarik hati Dewi adalah tubuh mereka betul-betul tegap dan tinggi, dan tonjolan di celana ketat satpam mereka, Dewi membayangkan bahwa kemaluan mereka pasti lebih besar dari punya suaminya, Dewipun selalu menelan ludah saat mencuri pandang ke tonjolan yang berada di selangkangan mereka, ia selalu menikmati pemandangan pagi saat melihat ke 2 satpam itu berdiri ataupun saat ia pulang dan melihat kedua satpan yang lainnya, ingin rasanya ia menikmati pentungan-pentungan satpam itu mengobrak-abrik vaginanya.
Hari ini adalah hari pertama Dewi berangkat sendiri ke kantor, suaminya dan Erwin sudah berangkat ke luar kota kembali, setelah mereka yakin bahwa Dewi sudah bisa menangani urusan-urusan kantor saat mereka tidak ada di Jakarta, Yono yang hari ini bertugas mengantar Dewi ke kantor, matanya tidak dapat berkedip melihat paha mulus Dewi, sudah lama Yono tidak merasakan jepitan vagina Dewi di penisnya, ingin rasanya ia menyetubuhi nyonya majikannya lagi, tapi mimpinya dipanggil oleh Dewi untuk memuaskan nyonyanya itu tidak kunjung tiba apalagi tuannya selama hampir 1 bulan ini berada di Jakarta, dan nyonyanya mulai sibuk pergi ke kantor dan selalu pulang malam, saat pulangpun pasti bersamaan dengan tuannya, tapi pagi ini harapannya yang sudah mulai pupus kembali merekah, saat Bambang pagi-pagi sudah mengantar tuannya ke airport, dalam hatinya Yono mulai berharap kembali bahwa suatu waktu nanti nyonyanya memanggil dia untuk memasukkan penisnya ke lubang vagina nyonyanya itu.
Hari ini Dewi yang mengenakan blazer hitam dengan rok span hitam juga dan blouse putih tanpa lengan dibagian dalamnya, terlihat lebih anggun dan sexy dimata Yono, apalagi saat Yono melihat belahan dada Dewi saat Dewi menaiki mobil, pikiran Yono terbangkit kembali saat dia melumat kedua payudara Dewi tersebut, dan saat Dewi duduk Yono melihat celana dalamnya yang berwarna merah terpampang di kaca spionnya, rok span hitam Dewi yang hanya sebatas pertengahan paha tidak dapat menyembunyikan CDnya tersebut.
Yono membayangkan lubang kenikmatan yang bersembunyi dibalik CD tersebut, yang ia bisa lakukan hanya menelan ludah dan membayangkan vagina yang berada di balik CD tersebut. Tapi Yono tidak hanya sendiri yang membayangkan tubuh indah Dewi itu, kedua satpam yang mendapatkan giliran pagi ini juga menelan ludah mereka melihat bentuk tubuh nyonyanya itu.
Keduanya dengan mencuri-curi pandang menjelajahi bentuk tubuh Dewi yang aduhai, biasanya kalau nyonyanya keluar rumah dengan tuannya, mereka tidak berani mencuri-curi pandang seperti sekarang ini, karena takut ketahuan oleh tuannya, bisa-bisa mereka dipecat, tapi pagi ini saat nyonyanya ini berangkat sendiri mereka mulai berani mencuri-curi pandang.
Dalam hati mereka pantas tuannya menitip pesan untuk melapor bila nyonyanya membawa lelaki pulang kerumah, karena tuannya takut istrinya ini nyeleweng dengan lelaki lain. Merekapun membayangkan kalau mereka bisa menikmati keindahan tubuh nyonyanya ini, tanpa mereka rasa pentungan mereka bergerak bangkit, dan membuat tonjolan yang nampak jelas di celana mereka. Tanpa diketahui oleh kedua satpam itu mata Dewi sempat melirik ke arah selangkangan mereka dan ia melihat tonjolan besar di celana mereka, dan Dewi tersenyum melihat itu, pikiran nakalnya mulai berputar mencari jalan untuk dapat menikmati pentungan-pentungan para satpamnya itu. Dalam perjalanan ke kantor, baik Yono maupun Dewi asyik dengan pikiran masing-masing.
Yono asyik dengan mimpi-mimpinya dipanggil oleh nyonyanya untuk memasukkan penisnya ke dalam vagina nyonya itu, dan Dewi asyik dengan pikirannya tentang asyiknya di sodok-sodok oleh pentungan-pentungan satpamnya yang mempunyai tubuh-tubuh yang kekar.
Saat mobil berhenti di lampu merah, mata Dewi terpaku pada sebuah majalah yang ditawarkan oleh pedagang asongan. Hatinya tertarik untuk membeli majalah tersebut, kemudian iapun membeli majalah tersebut. Majalah itu berisikan cerita-cerita tentang hal-hal yang misteri yang terjadi di Indonesia, saat Dewi mulai membuka satu-persatu halaman majalah tersebut matanya tertarik dengan sebuah iklan mini yang nyaris tidak terlihat oleh mata, karena iklan tersebut tidak seperti iklan-iklan yang lainnya,
“Anda ingin tubuh anda kembali segar dan di sukai kembali oleh suami anda, hubungi Ki Jaya, No. HP. 08*********” begitulah bunyi iklan tersebut, Dewipun penasaran dengan iklan tersebut, ia penasaran dengan yang dimaksud oleh iklan tersebut tentang tubuh yang kembali segar dan disukai lagi oleh suaminya. Dalam hatinya ia bermaksud untuk menelpon no tersebut dan menanyakan hal tersebut. Sesampainya di kantor, setelah menyuruh Yono untuk standby, Dewipun segera melangkah masuk ke kantornya.
Para karyawan yang berpapasan dengannya mengucapkan selamat pagi yang dibalasnya dengan sapaan pagi serta senyuman manis, banyak para pria yang berada di kantornya mengagumi atasan baru mereka ini, orangnya yang cantik, murah senyum dan sexy, sementara para wanitanya banyak yang merasa iri melihat bentuk tubuh Dewi yang sexy. Mira menghampiri bossnya sambil membawa agendanya, untuk menyampaikan beberapa agenda bossnya hari ini.
Setelah selesai Mirapun keluar ruangan dan menutup pintu kantornya, Dewi segera asyik dengan tugas-tugas rutinnya.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 11.30. Saat itu Dewi teringat dengan iklan yang membuat dia penasaran, diambilnya majalah dari dalam tasnya, kemudian dibukanya halaman yang sudah di tandai olehnya.
Dewipun kemudian mengangkat telepon di mejanya dan mulai menekan angka-angka yang ada di pesawat teleponnya sesuai dengan yang tertera di iklan tersebut. “Haloo…. Halooo,” suara lelaki dengan nada berat terdengar saat sambungan teleponnya tersambung.
“Eh..Haloo…,”sahut Dewi sedikit terpana mendengar suara lelaki tersebut, seolah ia tertarik dengan suara tersebut. “Ada yang bisa saya bantu, Bu,” sahut suara berat itu.
“Oh..iya pak, saya mau tanya soal iklan bapak yang ada di majalah *****,” jawab Dewi “Ooohh..itu.. apa yang mau ibu tanyakan? Dan maaf bu, lebih enak ibu panggil saya aki saja,” kembali suara berat itu terdengar menjawab, dan entah kenapa Dewi semakin tertarik mendengarkan suara berat lelaki itu.
“Begini, pak..eh aki.. apa yang dimaksud iklan itu tentang kembali segar dan disukai lagi oleh suami,” Tanya Dewi. “Oh..itu, begini Bu, saya jelaskan langsung saja yach, saya bisa membuat tubuh ibu segar kembali, maksud dari segar itu adalah saya dapat membuat…eheemmm… maaf bu… kemaluan ibu lebih rapat dan pasti kalau sudah begitu suami ibu akan lebih suka sama ibu khan,” dengan ringkas suara berat itu menjelaskan.
“Oohh…begitu Ki, terus kalau saya tertarik saya harus kemana, soalnya di iklan itu tidak ada alamatnya,” Dewi kembali bertanya. “Oh..memang bu, saya tidak mencantumkan alamat, karena saya tidak mau sembarangan orang yang datang, jadi saya harus menyeleksinya dahulu lewat telepon, seperti sekarang,”jawab suara berat tadi “Saya pelajari suara ibu, dan saya mau mengobati ibu, agar ibu lebih percaya kepada saya, saya akan ungkapkan beberapa hal yang rahasia kepada ibu, dan itu juga kalau ibu tidak keberatan dan merasa tertarik untuk diobati,” lanjut suara berat itu. ”Oohh.. pakai acara seleksi juga Ki, saya tertarik untuk diobati Ki, jadi tolong kasih saya alamat Aki dimana?,” sahut Dewi.
“Baik bu, alamat saya di daerah Bogor, tepatnya di desa **** di bawah kaki Gunung Salak,” jelas suara berat tadi “Dan untuk mengurangi penasaran ibu tentang kehebatan saya, saya beritahu ibu, bahwa pikiran ibu saat sekarang ini sedang membayangkan disetubuhi oleh dua orang satpam yang bekerja dirumah ibu,”kembali suara berat itu melanjutkan dengan sedikit membongkar isi hati atau pikiran Dewi. Dewi terhenyak kaget atas penjelasan orang tersebut, darimana orang tersebut bisa tahu jalan pikirannya saat sekarang ini, kemudian Dewi segera mengiyakan bahwa dia akan mendatangi tempat orang itu siang ini juga, yang di iyakan oleh orang tersebut, dan orang tersebut menjamin bahwa setelah Dewi diobati olehnya, kemaluannya akan lebih enak dipakai atau dirasakan oleh suaminya. Setelah selesai menelpon orang tersebut, Dewi segera memanggil Mira dan memberitahukan Mira untuk membatalkan agenda siang dan sore hari ini, karena ia merasa sedikit tidak enak badan, dan segera meninggalkan kantornya. Di mobil Dewi memberikan alamat tersebut kepada Yono dan menyuruh Yono untuk mengantarnya ke tempat tersebut.
Yono sedikit bingung dengan perintah nyonyanya ini, tapi namanya dia hanya sekedar supir, ia hanya bisa menganggukan kepala dan mengarahkan mobilnya ke tempat tersebut. Setelah kira-kira 2 jam perjalanan dari Jakarta dan beberapa kali berhenti untuk menanyakan arah jalan, akhirnya mereka sampai ke tempat yang dituju. Dari jalan raya tempat tersebut berjarak sekitar 500 meteran, jalan masuknya yang pas untuk sebuah mobil terlihat rapi walaupun dari tanah dan batu kerikil, samping kiri-kanan jalan ditutupi oleh pohon-pohon yang rindang, pekarangan rumahnya cukup luas untuk menampung 4 mobil sekaligus, sementara rumahnya terlihat sangat sederhana. Walaupun dindingnya dari bilik, tapi rumah itu terlihat bersih dan asri, tidak menampakkan seperti rumah-rumah para dukun yang terlihat sedikit angker, rumah ini jauh dari kesan angker. Saat Dewi turun dari mobil, pintu rumah tersebutpun terbuka dari dalamnya keluar seorang kakek-kakek, kakek itu mengenakan celana hitam gombrang, atasannya kakek itu mengenakan kaos oblong putih dan kemeja hitam berbahan sama dengan celananya tanpa dikancingkan serta kepalanya mengenakan ikat kepala batik. Dewipun menghampiri kakek tersebut, disambut dengan senyuman oleh kakek tersebut. Dewi memperhatikan kakek tersebut juga jauh disebut dari yang namanya dukun melihat penampilan dan mukanya.
“Ayo..Bu mari silahkan masuk ke gubukku ini,”kakek itu mempersilahkan Dewi untuk masuk, dan Dewi mendengar suara berat yang ia dengar saat ia telepon tadi, dan Dewi merasa yakin bahwa orang ini adalah yang tadi ia telepon.
“Dan itu supir ibu, Yono, suruh ia tunggu saja di mobil,” lanjut si kakek
“oh iya..Ki… memang ia menunggu di mobil,”sahut Dewi kaget karena si kakek ternyata tahu nama supirnya itu.
Setelah masuk ke dalam rumah, terlihat keadaan rumah itu memang sederhana, tapi nampak asri terlihat oleh mata Dewi.
Lalu kakek tersebut mempersilahkan Dewi untuk duduk di bale bambu yang terletak diruangan tersebut, Dewipun bersimpuh di atas bale bambu tersebut.
“Begini nak Dewi, saya panggil ibu, anak saja yach,” kata kakek itu
“Oh iyach Ki, “kata Dewi dan lagi-lagi Dewi terhenyak saat kakek itu menyebutkan namanya, padahal ia belum memperkenalkan diri.
“Jangan kaget, nak Dewi, saya sebelumnya sudah menerawang keadaan nak Dewi, dari semenjak nak Dewi menelpon saya, jadi saya bisa tahu nama anak sendiri dan siapa saja yang bekerja dengan nak Dewi,” kakek itu menjelaskan “Ehh…iyach Ki..,” kata Dewi masih belum hilang rasa kagetnya.
Ki Jaya “Baiklah nak Dewi, pertama kenalkan nama saya Ki Jaya, saya tidak mau mengobati sembarangan orang, saya mengobati orang sesuai dengan pilihan saya, maksud kedatangan nak Dewi kesini adalah nak Dewi ingin kemaluannya kembali rapat seperti semula dan biarpun sebesar apapun kemaluan lelaki yang memasuki lubang senggama nak Dewi, tapi kemaluan nak Dewi tetap rapat, itu tujuan pertama nak Dewi,” Ki Jaya menjelaskan tujuan Dewi tanpa menanyakan kepada Dewi apa maksud tujuannya datang kerumahnya. Dewi hanya mengangguk kagum, dan tersenyum dengan manisnya.
“dan nak Dewi, ingin suaminya tidak marah kalau ia mengetahui nak Dewi melakukan seks dengan lelaki lain dibelakang dia, itu tujuan kedua nak Dewi,”lanjut Ki Jaya.
Kembali Dewi mengangguk, mulutnya semakin tersenyum, dan ia semakin yakin bahwa Ki Jaya akan mampu mengabulkan keinginannya semua, karena tanpa perlu ia jelaskan Ki Jaya ternyata dapat menebak isi hatinya ataupun jalan pikirannya.
“nak Dewi juga ingin bentuk payudara nak Dewi tidak berubah, walaupun habis diacak-acak oleh suaminya atau para lelaki yang menyetubuhi nak Dewi, tetek nak Dewi tidak jatuh akibat remasan para lelaki, nak Dewi pengen teteknya mengkal terus seperti tetek anak perawan, itu tujuan nak Dewi yang ketiga,”Ki Jaya melanjutkan Dewi semakin terpana dengan penjelasan-penjelasan Ki Jaya, “Ki…maaf saya potong, nampaknya aki sudah mengetahui keinginan saya semua, terus saya ingin bertanya, apa aki bisa mengobati saya dan berapa saya harus bayar?,” Tanya Dewi.
“Hehehehe… nak Dewi nampaknya sudah tidak sabar, baik saya tidak perlu jelaskan satu-persatu keinginan nak Dewi, tapi saya bisa mengobati nak Dewi, apa yang nak Dewi inginkan saya bias kabulkan semuanya, dan untuk urusan biaya, saya lebih suka kalau nanti setelah selesai dan nak Dewi merasa puas dengan pengobatan saya, silahkan nak Dewi membayar serelanya nak Dewi,”jawab Ki Jaya. “Eh..kok gitu Ki, “ tanya Dewi kaget, karena baru kali ini ia mendengar seorang dukun tidak mentarget biaya, biasanya yang ia dengar selalu ada uang maharnya atau apalah isitilahnya.
“jangan kaget nak Dewi, saya selalu begitu, jadi kalau nak Dewi gak puas gak usah bayar tapi kalau nak Dewi puas silahkan bayar saya, berapapun saya akan terima, jadi bagaimana mau diobati sekarang,”Ki Jaya berkata.
“Oh iyach..Ki, lebih cepat lebih baik,”jawab Dewi sambil melirik jam tangannya, ia melihat sekarang sudah jam 2 siang dan ia tidak tahu berapa lama pengobatan ini akan berlangsung.
“yach sudah saya akan memulainya sekarang, tunggu sebentar yach,”kata Ki Jaya sambil beranjak meninggalkan Dewi.
Kira-kira seperempat jam, Ki Jaya kembali dengan baki di tangan. Di atas baki itu ada 2 gelas dan sepiring singkong rebus beserta gula merah.
Ki Jaya meletakkan baki tersebut di bale dan memberikan 1 gelas yang berisi teh kepada Dewi dan menyuruh Dewi untuk meminumnya sampai habis, dan kemudian Ki Jaya melangkah keluar rumah dan meletakkan baki di atas bale yang berada di teras rumahnya dan Ki Jaya menyuruh Yono untuk menikmati hidangan ala kadarnya sambil menunggu nyonyanya selesai diobati.
Setelah menutup pintu rumahnya, Ki Jaya menghampiri Dewi yang masih bersimpuh di Bale, dan saat ia melihat gelas Dewi sudah kosong, Ki Jayapun tersenyum. Kemudian Ki Jaya kembali kedalam, sekeluarnya ia membawa sehelai kain batik, kemudian ia menyuruh Dewi untuk membuka semua baju yang dikenakannya, termasuk BH dan Cdnya. Dengan malu-malu Dewipun mulai melepaskan baju yang dikenakannya satu persatu, sementara Ki Jaya tanpa berkedip memandangi gerakan Dewi yang melepaskan pakaiannya satu persatu.
Ki Jayapun menelan ludahnya saat melihat kedua bukit kembar Dewi yang terpampang di hadapannya.
Perlahan dengan pasti pentungannya bergeliat menyaksikan pemandangan tersebut, apalagi saat itu Dewi yang sudah bertelanjang bagian atasnya disibukkan dengan melipat blazer dan blusnya dan menaruhnya di bagian dalam bale tersebut, jadi kedua bukit kembarnya itu bergerak seiring dengan gerakan tubuhnya yang melipat pakaiannya. Selesai dengan menaruh blazer, blus dan BHnya, kemudian Dewi berlutut untuk melepaskan rok spannya, kedua tangannya bergerak ke arah belakang untuk meraih kaitan kancing dan risleting roknya.
Setelah kancing dan risleting roknya terbuka, dengan bergerak perlahan Dewi mulai menurunkan rok serta CDnya perlahan ke bawah. Gerakan perlahan Dewi semakin mengguncang kedua payudaranya, kedua payudaranya bergerak ke kiri-kanan. Mata Ki Jaya semakin terbelalak melihat kedua payudara Dewi yang terombang ambing, ditambah dengan pemandangan di bagian bawah tubuh Dewi yang perlahan-lahan mulai memperlihatkan lembah kenikmatanya yang dihiasi hutan hitam yang tertata rapi.
Ki Jayapun semakin sering menelan ludahnya, pentungannya semakin mengeras dan menonjol, celana komprangnya tidak sanggup menutupi pergerakan pentungannya apalagi Ki Jaya tidak mengenakan CD di balik celana komprangnya.
Setelah selesai melipat dan menaruh rok dan CDnya di atas blazer dan blusnya tadi, Dewi kembali bersimpuh, kedua pipinya merona merah, nafasnya sedikit memburu membuat kedua bukit kembarnya terlihat naik turun dengan teratur saat melihat tonjolan di selangkangan Ki Jaya, sementara di bagian selangkangan Dewi yang terlihat hanya gundukan hitam karena posisi duduknya yang bersimpuh. Saat melihat pandangan mata Ki Jaya, Dewi menjadi malu sendiri dan berusaha untuk menutupi kedua bukit kembar dan selangkangannya dengan kedua tangannya.
“Ehh…gak usah ditutupi nak Dewi, hehehehe… punya badan bagus kok mau ditutupi… jangan biar aki mempelajari bentuk tubuh nak Dewi…, baru aki menentukan pengobatan yang cocok,”kata Ki Jaya.
Dewipun menghentikan gerakan tangannya, dan membiarkan tubuhnya terpampang di mata Ki Jaya. Sementara itu Yono yang sedang berada di teras merasa penasaran dengan pengobatan yang disebutkan oleh si aki tadi, maka dari tempat ia duduk tadi Yono berusaha mencari celah dari dinding bilik. Setelah mendapat celah yang bisa untuk mengintip, Yono menjadi kaget karena ia melihat nyonyanya sedang telanjang, dia melihat kedua payudara nyonyanya bergantung dengan indahnya.
Tanpa terasa penisnya bergeliat dan iapun membetulkan posisi penisnya itu, ia tidak dapat melihat kemaluan nyonyanya itu karena posisi duduk nyonyanya yang bersimpuh. Ki Jaya mengetahui bahwa supir Dewi sedang mengintip, dalam hatinya ia ketawa, sekarang belum apa-apa tunggu sebentar lagi kubuat dia semakin bernafsu melihat apa yang akan kuperbuat terhadap nyonyanya ini. Kemudian Ki Jaya masuk kembali kedalam, saat keluar di tangannya sudah memegang mangkuk, kemudian Ki Jaya meletakkan mangkuk tersebut di atas bale dan menyuruh Dewi untuk membaringkan tubuhnya.
“nah..sekarang nak Dewi baringkan tubuhnya di atas bale, saya sudah tahu apa yang harus saya lakukan,”Ki Jaya menyuruh Dewi untuk membaringkan tubuhnya di atas bale, setelah terlebih dulu ia lapisi dengan kain batik yang tadi ia bawa keluar.
Dewipun menuruti perintah Ki Jaya itu, ia pun membaringkan tubuhnya di atas bale bambu itu. Bunyi berderit bale itupun terdengar saat Dewi mulai merebahkan tubuhnya. Setelah Dewi terbaring telentang di atas bale, Ki Jayapun menghampiri tubuhnya.
Kemudian ia memposisikan tubuhnya dengan berlutut di samping tubuh Dewi. Semua ini disaksikan Yono dengan hampir tidak mengedipkan matanya, lalu Ki Jaya memasukkan kedua tangannya ke dalam mangkuk.
“pertama saya akan obati kedua tetekmu, kalau nak Dewi mau merintih atau menjerit, saya persilahkan gak usah ditahan,”Ki Jaya menjelaskan. Kemudian kedua tangannya mulai merabai kedua payudara Dewi, tangannya bergerak dari bawah ke atas menuju ke putingnya sambil mulutnya komat-kamit membaca mantera. Dewi melihat Ki Jaya begitu serius memijat kedua payudaranya, dan perlahan-lahan Dewi mulai terangsang dengan pijatan-pijatan Ki Jaya tersebut. Dalam hatinya pantas dia bilang kalau mau merintih jangan ditahan, ternyata pijatannya ini membuatku terangsang. “Ooohhh….hhhmmmm….aaaahhhhh….ooohhh….,” Dewi mulai merintih menikmati sensasi pijatan Ki Jaya.
Dewi semakin merintih-rintih kenikmatan menikmati pijatan-pijatan Ki Jaya di kedua payudaranya tersebut, matanya meram melek, lubang senggamanya mulai basah, nafsunya mulai menggelora.
Sementara itu Ki Jaya masih dengan mulut komat kamit dan kedua tangan yang memijat-mijat payudara Dewi tidak terpengaruh dengan rintihan-rintihan Dewi, yang terpengaruh justru Yono, penisnya semakin mengeras mendengar rintihan-rintihan nikmat Dewi. Pikirannya semakin membayangkan ingin rasanya ia memasukkan penisnya ke dalam lubang vagina nyonyanya itu. Akhirnya Yonopun menurunkan risleting celananya karena ia merasa penisnya yang sudah menegang sempurna terasa sakit terjepit oleh celananya.
Penisnyapun ia keluarkan dari balutan CDnya, dan tangan kanannya asyik mengelus-elus batang penisnya itu, sementara matanya masih asyik mengintip kedalam. “Ooohhh…oooohhh…hhhmmm…aaahhh…Ki…enaakk…Ki…nikmatt …,” rintihan Dewi kerap terdengar. Akibat pijatan tangan Ki Jaya yang mengarah keatas kearah kedua putingnya itu, kedua puting susu Dewipun mulai mengeras pertanda Dewi nafsu Dewi semakin menggelegak, apalagi saat kedua tangan Ki Jaya sampai pada kedua putingnya, jari jemari Ki Jaya memilin kedua putingnya itu, sensasi nikmat yang Dewi rasakan semakin bertambah dengan aksi Ki Jaya tersebut, cairan nikmatnya semakin membasahi vaginanya, rintihannya semakin sering terdengar, Yono yang mendengarkan rintihan Dewi semakin bernafsu ingin memasukkan penisnya kedalam lubang vagina nyonyanya itu, tapi yang bisa Yono lakukan sekarang hanyalah melihat tubuh bugil nyonyanya itu tanpa bisa melakukan apapun selain hanya bisa mengelus-ngelus penisnya. “Oooohh….Ki…aaku…keluaaarrr…aaaagghhh….nikmat…Ki…e nak…pijatanmu…Ki,” Dewi mengerang saat mencapai puncak kenikmatannya.
Sssrrrrr….. ssrrrrr…. Srrrrr… Vagina Dewi menyemburkan lahar kenikmatannya, Dewi heran bahwa ia bisa puas hanya dengan pijatan-pijatan Ki Jaya di kedua payudaranya itu. Ki Jayapun tahu bahwa Dewi sudah mencapai puncak kenikmatannya, tapi dia tidak terpengaruh tetap dengan pijatan-pijatannya, sambil mulutnya tetap komat-kamit membaca mantera. Sementara itu Dewi yang baru saja menikmati orgasme pertamanya, mulai terangsang kembali. Lagi-lagi Dewi heran dengan tubuhnya ini, ia merasa aneh bahwa cepat sekali sekarang ini ia terangsang. Ia tidak tahu bahwa minuman yang ia tadi minum adalah teh ramuan yang asli buatan Ki Jaya, kegunaannya untuk menaikkan libido orang yang meminumnya, ditambah dengan mantera-mantera yang dibaca oleh Ki Jaya juga ada mantera perangsangnya. Jadi wajar saja jika Dewi dengan mudah mencapai klimaksnya hanya dengan pijatan dan setelah puas cepat terangsang lagi. Sudah lebih dari setengah jam Ki Jaya melakukan pijatan erotis di kedua payudara Dewi, dan Dewipun semakin terangsang menikmati sensasi pijatan erotis tersebut. Sementara itu Yonopun semakin bernafsu menyaksikan semua itu. Kemudian secara tiba-tiba Ki Jayapun menghentikan pijatannya, yang mana membuat Dewi sedikit kaget karena merasakan sensasi nikmatnya pijatan Ki Jaya tiba-tiba terhenti.
“Nah, tahap pertama sudah selesai, nak Dewi, sekarang nak Dewi bangun, dan lihat hasil pijatan saya,” Ki Jaya berkata setelah menghentikan pijatannya.
Dewipun bangun dari rebahannya dan ia memandangi kedua payudaranya itu, dan ia kaget melihat kedua payudaranya yang kembali seperti saat ia masih gadis dan belum ada satupun tangan lelaki yang menjamahnya, bentuk payudaranya sekarang ini berbeda sekali dengan bentuk payudaranya tadi saat sebelum di pijat oleh Ki Jaya, bentuk payudaranya tadi sudah mulai turun jika tidak mengenakan BH, sementara sekarang ini bulatan dan bentuk payudaranya seolah berdiri menantang walaupun tidak mengenakan BH. “Ki…. Eehhh… bentuk payudaraku ini bakalan seperti ini terus,” Dewi bertanya memastikan bahwa payudaranya tidak akan berubah seperti sediakala. “Heemm… pasti biarpun dipegangi berapa banyak lelaki dan biarpun nak Dewi tidak menggunakan BH lagi payudaranya tidak akan jatuh atau turun, bulatan dan bentuk payudara nak Dewi ini akan permanent seumur hidup, kecuali saya tarik mantera saya,” Ki Jaya menjelaskan. Yonopun melihat kedua payudara Dewi lebih tegak dan lebih membulat dari semula, dan iapun heran akan kesaktian dukun yang satu ini, tanpa operasi, tapi payudara nyonyanya ini betul-betul mencuat dan membulat persis seperti susu perawan saja.
“Nah, sekarang mau dilanjut dengan tahap berikutnya..hehehe..,”kata Ki Jaya sambil terkekeh-kekeh, karena puas ia berhasil merubah bentuk payudara Dewi.
“Iyaahh…Ki…lanjutkan terus sampai semua keinginan saya terpenuhi,” Dewi segera mengiyakan, sekarang ia lebih yakin dengan kesaktian dukun yang satu ini.
“Baik, nak Dewi pasrah saja yach, apapun yang saya lakukan untuk kebaikan nak Dewi sendiri,” kembali Ki Jaya menegaskan.
“Iyach..Ki.. saya percaya dan saya tidak akan protes, terserah Aki melakukan apa saja terhadap tubuh saya ini, yang penting semua keinginan saya tercapai,” Dewi meyakinkan Ki Jaya bahwa dirinya sudah pasrah dengan apa yang dilakukan oleh Ki Jaya.
“Baiklah, saya akan memulai ritual yang kedua, ritual ini akan memenuhi semua keinginan nak Dewi menjadi kenyataan, tapi sebelum saya mulai, lebih baik saya menyuruh, supir untuk masuk, kasihan dia daripada ngintip diluar nanti jadi bintitan mendingan duduk disini bisa langsung menyaksikan tubuh nyonyanya ini, hehehehehe,” kata Ki Jaya sambil tertawa terkekeh-kekeh.
Dewi kaget mendengar penjelasan Ki Jaya tersebut, tapi dia hanya menganggukkan kepala saja.
Sementara Yono di luar blingsatan mendengar kata-kata Ki Jaya, dengan buru-buru ia menarik risleting celananya ke atas setelah terlebih dahulu memasukkan penisnya ke dalam Cdnya. Tepat setelah itu Ki Jayapun membuka pintu rumahnya dan menyuruhnya masuk, dan ia menyuruh Yono untuk duduk di bangku. Ki Jaya pun menyuruh Yono untuk menanggalkan seluruh pakaiannya. “Ayo kamu masuk, daripada kamu ngintip, mendingan kamu lihat langsung, dan buka pakaianmu, terus kamu duduk di bangku itu, jangan mengganggu acara ritual ini, kalau kamu tidak saya panggil, jangan sedikitpun kamu menghampiri kami,” perintah Ki Jaya kepada Yono, yang segera dipatuhi oleh Yono. Dewi melihat Yono mulai melucuti pakaiannya satu-persatu dan ia melihat penisnya Yono sudah berdiri dengan gagahnya. Ingin rasanya Dewi menerkam penisnya itu dan dimasukkan ke dalam lubang vaginanya yang semakin gatal, tapi ia hanya dapat menahan diri sebelum ada perintah dari Ki Jaya. Saat mata Dewi terpaku menyaksikan Yono yang sedang melucuti pakaiannya, tanpa ia sadari Ki Jayapun melakukan hal yang serupa. Yono yang melihat kakek tua renta itu melucuti pakaiannya dibuat kaget karena saat Ki Jaya melepaskan celana komprangnya, pentungan Ki Jaya yang ukurannya hampir dua kali lipat dari kepunyaannya terlihat jelas di depan matanya. Hatinya menjerit “gila kakek ini, badannya kecil dan kurus, tapi kontolnya besar sekali” Dewi yang melihat ekspresi Yono yang kaget, mengalihkan pandangannya ke arah pandangan Yono dan iapun terhenyak setelah melihat penisnya Ki Jaya yang besar, ukurannya lebih besar dari Dave (pria Negro yang pernah menyetubuhinya), dan kedua bola matanya terbelalak tanda takjub. “Kenapa nak Dewi, kaget yach, hehehehe… ini pentungan sakti, nanti kamu akan tahu rasanya dan akibat yang ditimbulkan olehnya,..hehehehe…,” Ki Jaya tertawa terkekeh-kekeh saat melihat mimik muka dan mata Dewi yang terbelalak. “Iyach…Ki… besaarrr… sekalii… jauh kalau dibandingkan dengan punya suamiku, punyaku pasti terbelah dua kalau dimasukkan pentungan itu,” kata Dewi “Gak usah takut, kan kamu ingin vaginamu akan bisa menampung penis-penis sebesar apapun dan lubang vaginamu akan kembali peret dan bisa menyesuaikan dengan besar kecilnya batang lelaki yang menyetubuhimu,” Ki Jaya menjelaskan.
Dewi hanya bisa mengangguk mengiyakan, tapi hatinya penasaran ingin cepat-cepat merasakan sodokan-sodokan penisnya Ki Jaya yang super itu.
“Baiklah, kita mulai ritual yang kedua ini, dan kamu Yono jangan sekali-sekali mengganggu acara ritual ini, kamu mau onani disitu silahkan tapi jangan sekali-kali kamu beranjak dari tempat dudukmu untuk menghampiri kami, sampai saya perintahkan, mengerti kamu,” Ki Jaya berkata lagi sambil memberi peringatan pada Yono.
“Iyachh…Ki,”jawab Yono. Kemudian Ki Jaya menyuruh Dewi merebahkan kembali tubuhnya, dan membuka kakinya lebar-lebar, sehingga kemaluannya terpampang dengan jelas di depan matanya. Kemudian Ki Jaya menekuk kedua kaki Dewi, dan Ki Jayapun mengambil bantal yang ada di bale itu dan menaruhnya di bawah pinggul Dewi, sehingga kemaluan Dewi dengan posisi tersebut lebih terekspos dengan jelas. Kemudian Ki Jaya kembali memasukkan kedua tangannya ke dalam mangkuk, dan mulai memijat perut Dewi dari atas ke bawah. Posisi Ki Jaya yang bersimpuh di dekat kemaluan Dewi membuat penisnya yang besar dan sudah tegang tersebut menggeser-geser bibir kemaluan Dewi. Seiring dengan gerakan memijatnya, mulutnya kembali komat-kamit membaca mantera, sensasi pijatan tangan Ki jaya kembali membangkitkan gairah birahi Dewi, ditambah dengan gesekan-gesekan penisnya yang super besar itu di belahan vaginanya, membuat Dewi kembali mendesah-desah. Yonopun kembali mengelus-elus penisnya mendengar desahan Dewi.
Kedua tangan Ki Jaya memijat bagian perut dari batas tetek Dewi terus menurun ke bawah hingga bagian selangkangan Dewi, dan saat sampai di belahan vagina Dewi, kedua tangannya itupun menekan-nekan, kedua belah bibir vagina Dewi. Dewipun semakin kelojotan menahan desakan nafsunya yang semakin menggelora, desahan dan rintihanpun semakin sering terdengar, saat tangan Ki Jaya beralih ke atas lagi giliran penis Ki Jaya yang menekan-nekan belahan bibir vaginanya. Dewi tidak dapat mengungkapkan dengan kata-kata kenikmatan yang melandanya saat ini, kenikmatan yang baru pertama ia rasakan selama ini, dan Dewipun tetap merasa aneh dengan rasa nikmat yang didapatnya hanya dengan pijatan dan gesekan penisnya Ki Jaya ini.
“Ooohhh…Ki…enakk….Ki…nikmaaattt…aaahhh…sshhhh… hhmmmm..ooohhh… aaahh,” Dewi mengerang keenakan menikmati sensasi pijatan Ki Jaya dan gesekan penisnya.
Kedua tangan Dewi meremas-remas kedua payudaranya dan memilin-milin kedua putingnya, tubuh bagian atasnya kadang-kadang melenting menikmati sensasi pijatan tangan Ki Jaya yang sedang asyik memijat-mijat belahan bibir vaginanya dan juga pijatan-pijatan di sekitar kelentitnya, yang nampak semakin mencuat tanda Dewi semakin terangsang oleh pijatan Ki Jaya.
“ooohh… Ki… akuuu…mau…keluaarrr…lagi….ooohh….. Ki..akkuuu.. gak tahan..Ki.. oohhh…enaaakkk…nikmaattt… Ki….akuuuu… keeelluuaaaarrr..,” Dewi mengerang menyambut puncak kenikmatannya yang untuk kedua kalinya berhasil ia gapai.
Ssssrrrr….. sssrrrrr…. Sssrrrrr… ssssrrrrr…. vaginanya kembali basah oleh lahar kenikmatannya. Ki Jayapun merasakan vagina Dewi menjadi basah saat kedua tangannya memijat-mijat vagina dan kelentit Dewi dan juga penisnyapun merasakan hal yang sama dan gesekan-gesekan dengan vagina Dewipun semakin lancar, akibat dari cairan kenikmatan Dewi itu, tapi hebatnya Ki Jaya tidak bergeming sedikitpun, mulutnya tetap komat-kamit membaca mantera sementara kedua tangannya tetap dengan ritme pijatan yang tidak berubah. Tapi Yono semakin tidak keruan menyaksikan adegan live tersebut, penisnya semakin mengeras, elusan-elusannya berubah menjadi kocokan-kocokan, saat mendengar Dewi mengerang dan ingin memuncratkan lahar kenikmatannya, Yonopun semakin bernafsu mengocok penisnya itu, dan saat Dewi mengejang karena berhasil mencapai puncak kenikmatannya, Yonopun mengerang dan penisnya memuncratkan air mani keatas dan jatuh ke lantai, Dewi melihat saat Yono memuntahkan spermanya, dan ingin rasanya Dewi mendapatkan tembakan-tembakan sperma Yono itu didalam rongga kenikmatannya. Ki Jaya tetap dengan ritualnya sendiri, mulutnya tanpa henti komat-kamit membaca mantera, sementara yang dipijat mulai kembali bergairah, yang menyaksikanpun sama. Gairah birahi Dewi kembali bergelora, pijatan-pijatan erotis Ki Jaya betul-betul menaklukkannya, Yonopun kembali bernafsu saat menyaksikan geliat tubuh nyonyanya yang terangsang dan mendengar rintihan-rintihan kenikmatan nyonyanya itu, penisnya kembali tegak dengan gagahnya. Yono sendiri heran biasanya bila ia telah mencapai puncak kenikmatannya, penisnya itu akan mati dan haru menunggu setengah jam untuk bisa bangun kembali, tapi sekarang penisnya langsung tegak kembali setelah mengeluarkan air mani tadi. Keduanya tidak mengetahui bahwa mantra Ki Jaya yang dirapal itu selain untuk mengobati Dewi tapi ada rapalan yang membuat orang yang berada diruangan itu terbangkit birahinya. Jadi biarpun sudah puas dan sudah mengeluarkan cairan kenikmatan, gairah birahi mereka akan terus bangkit.
Dewi semakin bernafsu, birahinya semakin menggelegak, vaginanya semakin gatal ingin secepatnya merasakan sodokan-sodokan batang kemaluan. Saat birahinya semakin memuncak Ki Jayapun menghentikan pijatannya dan membalikkan tubuh Dewi. Posisi tubuh Dewi sekarang ini menungging di hadapan Ki Jaya dengan kepala rebah di bale dan pantat yang terangkat, dan kedua kaki yang mengangkang, sehingga kemaluannya terpampang jelas di hadapan Ki Jaya. Kemudian Ki Jaya melanjutkan pijatannya setelah memasukkan kedua tangannya ke dalam mangkuk. Sekarang giliran pantat Dewi yang dipijat, pijatan yang dilakukan oleh Ki Jaya bergerak dari paha ke atas ke arah pantatnya. Kemudian kedua tangannya memutar saat sampai di pantat Dewi setelah terlebih dahulu kedua jempolnya memijat dari kedua belahan bibir vagina Dewi ke arah anusnya. Lagi-lagi Dewi merasakan sensasi nikmat yang luar biasa, ia merasakan kegelian di lubang anusnya saat kedua jempol Ki Jaya memijat-mijat lubang anusnya itu.
“Oohhh…Ki…aaaahhh…eenaaak…Ki…terusss…nikmat..Ki…,” Dewipun mengerang-erang keenakan menikmati sensasi pijatan erotis Ki Jaya.
Mulut Ki Jaya tidak henti-hentinya merapal mantra dan kedua tangannyapun terus melakukan pijatan-pijatan sensual di paha, di belahan vagina, di anus dan di pantat Dewi membuat wanita itu semakin merintih-rintih keenakan. Yonopun semakin bernafsu menyaksikan tubuh nyonyanya yang menggeliat karena desakan birahinya dan rintihan-rintihan nyonyanya.
“Ooohhh…enaaknyaa… nikmaatnya…pijatan aki…sshhhh…aaaahhh… Ki… aaaahhh… hhhmmmm…sshhhh… aaaaahhhh…,” Dewipun merintih kembali.
Vagina Dewi semakin basah akibat pijatan erotis Ki Jaya, ia sudah tidak dapat menahan deraan nafsu birahi yang melanda dirinya. Yono melihat tubuh nyonyanya itu sudah mulai gemetaran menahan gelegak nafsu birahi yang menerpanya, erangan-erangannyapun semakin sering terdengar. Ki Jayapun terus memijat-mijat daerah-daerah sensitif Dewi, membuatnya semakin kelojotan, dan tak lama kemudian Yono mendengar nyonyanya menjerit panjang saat berhasil mencapai puncak kenikmatannya.
“aaaahhhhhhh…. Ki….. aaakkuuuu…. Keluaaaar… lagi… oooohhh…. Eeenaaaak… Ki… enaaaakkk…,” Dewi mengerang menyambut puncak kenikmatannya yang berhasil dia raih untuk ketiga kalinya.
Sssrrrr… Ssrrrr… Srrr….. Srrrr…. Vagina Dewi kembali memuntahkan lahar kenikmatannya, lubang senggamanya semakin banjir. Dan saat Dewi berhasil memuntahkan lahar kenikmatannya, Ki Jayapun menghentikan pijatannya sambil tersenyum puas.
“nampaknya nak Dewi, puas lagi atas pijatanku.. hehehehe…,” Ki Jaya terkekeh-kekeh.
“Iyaaacchhh… Ki..eenaaak…pijatan aki..betul-betul enaaak…,”kata Dewi sampil tersipu malu.
“Sekarang nak Dewi lihat hasil pijatan aki,” Ki Jaya kembali berkata.
Dewi sambil tersipu malu melihat bentuk perut dan pantatnya, ia melihat perutnya kembali kempis seperti saat ia sebelum nikah dan bongkahan pantatnya yang awalnya sudah turun, sekarang posisi bongkahan pantatnya kembali ke saat ia masih gadis. Dewi merasa puas dengan hasil pijatan Ki Jaya, Yonopun terpana melihat bentuk tubuh Dewi yang lebih sexy, pantat yang bahenol, perut yang kempis serta payudara yang menggantung dengan indahnya, betul-betul seperti tubuh perawan saja sekarang ini.
“Kita lanjutkan dengan bagian dalamnya?” Tanya Ki Jaya kepada Dewi.
“Iyach..Ki..di lanjutkan saja pengobatannya,” jawab Dewi sambil penasaran bagaimana caranya Ki Jaya mengobati rongga dalam lubang vaginanya.
“Yach sudah, sekarang nak Dewi rebahan kembali,” kata Ki Jaya, Kemudian Ki Jaya meletakkan bantal di bawah kepala Dewi dan kembali kedua kaki Dewi ditekuk dan direnggangkan sehingga kemaluannya terpampang kembali di hadapan mata Ki Jaya. Kemudian Ki Jaya kembali memasukkan kedua tangannya ke dalam mangkuk, setelah itu kedua tangannya mengusap-usap penisnya yang super besar itu.
Dewi melihatnya dengan terkesima saat kedua tangan Ki Jaya itu tidak mengarah ke tubuhnya untuk memijatnya tapi malah ke penisnya dan mengusap-usap penisnya dan Dewi baru mengerti setelah Ki Jaya bersimpuh di hadapannya dan mengarahkan penisnya yang super besar itu ke vaginanya.
Ia mendesah lirih saat kepala penisnya Ki Jaya mulai menyentuh belahan bibir vaginanya. Ki Jaya mulai menggeser-geserkan kepala penisnya itu di belahan vagina Dewi serta di kelentitnya. Dewi merasakan geli dan nikmat yang luar biasa bercampur aduk, ia semakin mendesah menikmati sensasi birahinya ini. Yono yang menyaksikan vagina nyonyanya itu digesek-gesek oleh penisnya Ki Jaya yang berukuran monster itu menjadi bergidik. Ia membayangkan setelah dipakai oleh Ki Jaya pasti vagina nyonyanya itu gak akan enak dipakai oleh penisnya yang ukurannya jauh lebih kecil.
Dewi melihat mulut Ki Jaya komat-kamit saat menggesek-gesekkan kepala penisnya itu, tapi ia sudah tidak perduli lagi dengan mulut Ki Jaya yang komat-kamit, yang ia pedulikan ialah penisnya Ki Jaya yang besar itu menyodok-nyodok vaginanya yang sudah semakin gatal.
“Ach, akhirnya keluar juga.. hehehehe,” tiba-tiba Ki Jaya berkata sambil menghentikan kegiatannya dan tangannya meraih sesuatu dari vagina Dewi.
Dewi sendiri kaget saat Ki Jaya menghentikan gesekan kepala penisnya di bibir vaginanya, apalagi saat tangan Ki Jaya meraih sesuatu dari lubang vaginanya, dan Dewi melihat spiral KB yang berada di dalam lubang vaginanya sekarang berada di tangan Ki Jaya. “Gak usah takut nak Dewi, biarpun spiral ini saya angkat, tapi nak Dewi gak akan bisa hamil lagi kalau saya tidak cabut mantra saya,” Ki Jaya menjelaskan setelah melihat mimik muka Dewi yang kaget. Dewi hanya bisa tersipu malu mendengar perkataan Ki Jaya, karena jalan pikirannya kembali dapat dibaca oleh Ki Jaya. Kemudian Ki Jaya kembali menggesek-gesekkan kepala penisnya di kelentit Dewi, ia pun mengerang kembali, sambil mulut Ki Jaya tetap komat-kamit, tak lama kemudian Ki Jaya mulai menekankan kepala penisnya kedalam lubang senggama Dewi. Dengan perlahan tapi pasti kepala penisnya yang besar itu mulai terjepit di lubang vagina Dewi, ia melenguh saat merasakan lesakan kepala penisnya Ki Jaya di lubang vaginanya. Yang Dewi heran ia tidak merasa sakit saat kepala penisnya Ki Jaya yang sangat besar itu mulai menyeruak di lubang vaginanya, tapi malah geli dan enak yang ia rasakan.
“Oohhh….Ki….kontolnya besaaarr..sekaaaliii… enaaakkk… memekku…dibuat penuh oleh kontolmu…aaaahhhh…. Ki…puaskaaann…akuu…Ki…,” Dewi melenguh keenakan merasakan pintu gerbang vaginanya yang penuh tersumpal oleh kepala pentungan Ki Jaya.
Dewi merintih-rintih keenakan merasakan kepala penisnya Ki Jaya yang mulai menerobos masuk di lubang vaginanya. Ki Jaya dengan mulut yang masih komat-kamit mulai melesakkan penisnya sedikit demi sedikit, centi demi centi penisnya Ki Jaya mulai menyeruak masuk di lubang vagina Dewi. Dewi semakin mengerang-ngerang menikmati sensasi lesakan penisnya Ki Jaya, dan geseran-geseran batang kemaluan itu dengan dinding vaginanya, Dewi merasakan dinding vaginanya seolah-olah menempel dengan ketat di penisnya Ki Jaya.
“Ki…ooouugghhh… enaaaakkk…. Ki…. Masukkan semuaaa… kontolmu yang besaaarrr itu…. Aaaghhh… Ki…nikmaaattt…Ki….Ki….terussss…. tekaaannn yang dalam..,” Dewi mengerang kembali.
Ki Jaya semakin melesakkan penisnya yang super besar itu lebih dalam di lubang senggama Dewi, mulutnya tanpa henti komat-kamit merapal mantra, Dewi semakin menggelinjang saat penisnya Ki Jaya melesak lebih dalam lagi di lubang vaginanya, lenguhan dan erangannya semakin sering terdengar, Yonopun semakin bernafsu melihat hal itu, geliat tubuh nyonyanya saat menikmati lesakan penisnya Ki Jaya membuat Yono semakin terangsang apalagi mendengar lenguhan dan erangan nyonyanya yang merasa keenakan. Dan saat penisnya Ki Jaya terbenam seluruhnya di lubang kenikmatan Dewi. Dewipun terbeliak, bola matanya hanya terlihat putihnya saja, ia betul-betul merasa keenakan saat lubang kewanitaannya itu di jejali oleh penisnya Ki Jaya yang panjang dan besar, apalagi batang penisnya Ki Jaya itu berdenyut-denyut seolah-olah membuat bergetar dinding vaginanya, yang menimbulkan sensasi kenikmatan tersendiri. Dewi belum pernah merasakan kenikmatan bersetubuh seperti yang sekarang ia alami, ia semakin merintih-rintih keenakan merasakan semua itu. “ooughh… Kiii…. Aakiii…. Oouuughh… kontolnya enaakk..betulll… memekku kerasa penuh…oougghhh… Kiii… aakiiii… eenaaaakkk…. Nikmaaaat…,”rintih Dewi. Setelah penisnya terbenam seluruhnya, Ki Jaya hanya mendiamkan penisnya itu dan mulutnya tetap komat-kamit, selang tak lama kemudian mulut Ki Jaya berhenti komat-kamit, dan mulai menarik mundur penisnya. Dewi merasakan dinding vaginanya seolah ikut tertarik keluar saat Ki Jaya menarik penisnya itu, Dewipun mengerang sejadi-jadinya.
“Oooohhh…. Ki.. enaaakk… memekku seperti tertarik keluarr… aaaghhh…. Ki… kontolmu betul-betuulll…. Nikmaaat….,”Dewi mengerang.
Ki Jaya menghentikan tarikan mundurnya saat kepala penisnya hampir terlepas dari jepitan vagina Dewi, kemudian ia mendorong masuk kembali penisnya itu dengan perlahan. Berulang-ulang Ki Jaya melakukan hal tersebut, Dewi merasakan nikmatnya surga dunia saat Ki Jaya menarik mundur penisnya dan mendorong masuk penisnya itu, dinding vaginanya yang melingkar ketat di batang penisnya Ki Jaya seolah-olah ikut tertarik dan terdorong, untuk pertama kalinya Dewi merasakan nikmat yang luar biasa saat melakukan senggama, walaupun gerakan keluar masuk penisnya Ki Jaya perlahan-lahan, tapi sensasi nikmat yang ditimbulkan saat dinding vaginanya bergesekan dengan batang penisnya Ki Jaya betul-betul memberikan kenikmatan yang sangat luar biasa.
“ooouughh… Ki… eenaaaakk… eenaaakk… terusss… kocok kontolmu di memekku… akiii aaagghhhh… aaakiii… ,” Dewi mengerang kembali, tubuhnya melenting merasakan sensasi nikmat persetubuhan ini.
“Oooughhh Ki… akii… akiii… aakuuu… gak tahan …Ki… aaaaghhh… aakuuuu…ki.. akiii aaakuuu… kheluaaaarrr… aakiiiii…,” Dewi menjerit panjang saat puncak orgasme ia raih, ini adalah orgasme pertama Dewi saat vaginanya di sodok penisnya Ki Jaya, dan orgasme atau orgasme yang ke 4 kalau dihitung dengan orgasme hasil pijatan tangan Ki Jaya.
Sssrrrrrr…. Sssrrrrr… Sssrrrr….. vaginanya menyemburkan lahar kenikmatannya dan membasahi batang penisnya Ki Jaya yang sedang terbenam di lubang vaginanya. Ki Jayapun membenamkan penisnya di lubang vagina Dewi saat Dewi meraih puncak kenikmatannya dan mulutnya kembali komat-kamit.
Saat nafas Dewi sudah tidak terdengar memburu lagi, saat itu juga Ki Jaya berhenti dari merapal mantranya dan menarik keluar penisnya dari jepitan dinding vagina Dewi. Dewi melihat batang penisnya Ki Jaya basah oleh cairan kenikmatannya, dan Dewi juga merasakan kehilangan saat penisnya Ki Jaya terlepas dari jepitan vaginanya. Dewi masih ingin merasakan penisnya Ki Jaya menyodok-nyodok vaginanya, tapi karena sudah berjanji bahwa dia akan mematuhi apapun yang dilakukan oleh Ki Jaya, jadi ia hanya bisa diam saja.
“hehehehe… enak..kontolku nak Dewi,” tanya Ki jaya sambil terkekeh-kekeh. Dewi tidak menjawab pertanyaan Ki Jaya, ia hanya dapat tersipu malu, tapi dalam hatinya mengakui bahwa penisnya Ki Jaya betul-betul enak, itu terbukti hanya dengan beberapa kali keluar masuk di lubang vaginanya, ia telah mencapai kepuasan. Ki Jayapun tersenyum melihat Dewi tersipu malu.
Ia ingin membuktikan kepada Dewi bahwa pengobatannya telah berhasil, iapun menoleh kearah Yono, dan…. “Kamu sini,”perintah Ki Jaya kepada Yono Dengan perasaan senang Yonopun segera menghampiri bale bambu di mana nyonyanya sedang berbaring itu.
Yono “nak Dewi bangun, dan Yono tiduran di situ,”kembali Ki Jaya memerintahkan mereka, yang segera dipatuhi oleh keduanya. “sekarang nak Dewi naiki tubuh si Yono, dan masukkan kontolnya ke dalam memek nak Dewi,” Ki Jaya memerintahkan selanjutnya apa yang harus mereka lakukan. Dewipun segera melakukan perintah Ki Jaya, dikangkanginya tubuh Yono dan penisnya Yono yang sudah sangat mengeras itu dipeganginya dan diarahkan ke lubang vaginanya. Setelah kepala penisnya Yono terjepit oleh bibir vaginanya, Dewi mulai menurunkan pantatnya sehingga batang kemaluan Yono mulai menerobos masuk ke lubang vaginanya. Dewi merasakan batang penis Yono menggesek perlahan di dinding vaginanya, dan Yono sendiri merasakan lubang vagina Dewi lebih ketat dari waktu dia untuk pertama kalinya bersetubuh dengan nyonyanya ini. Baik Dewi dan Yono merasa heran akan hal tersebut, padahal barusan vagina Dewi itu habis diterjang penisnya Ki Jaya yang luar biasa besar dan panjang.
“hehehehe….gak usah kaget nak Dewi, vaginamu sekarang ini akan langsung menyesuaikan dengan besar kecilnya batang kemaluan yang menyetubuhimu,” Ki Jaya menjelaskan.
Dewi dan Yono semakin yakin dengan kesaktian sang dukun ini setelah mendengar penjelasan dari Ki Jaya itu. Kemudian Ki Jaya memasukkan tangannya ke dalam mangkuk dan mengusapkan tangannya itu ke batang kemaluannya, setelah itu Ki Jaya mulai mengarahkan kepala penisnya ke anus Dewi.
“Nah…ini ritual yang ketiga, nak Dewi, sekarang anusmu akan kubuat sama dengan vaginamu, jadi sebesar apapun batang kemaluan lelaki yang menyetubuhimu, lubang anusmu akan menyesuaikannya dan saat selesai lubang anusmu akan kembali normal,” Ki Jaya menjelaskan.
“dan kamu Yono, kamu diam saja, nikmati saja memek nyonyamu itu, kamu jangan gerakkan kontolmu, nanti dia akan keluar masuk dengan sendirinya, kamu boleh menikmati tetek nyonyamu itu,” kata Ki Jaya.
“iyaaah… Ki,” jawab Yono yang saat itu merasakan enaknya jepitan vagina Dewi dan Yono merasa dinding vagina Dewi berdenyut-denyut seolah-olah sedang memijat-mijat batang penisnya.
Kemudian dengan mulut komat-kamit merapal mantra, Ki Jaya mulai mendorong masuk penisnya itu ke dalam lubang anus Dewi. Dengan perlahan tapi pasti batang penisnya terbenam seluruhnya di anus Dewi. Dewipun melenguh sejadi-jadinya merasakan lesakan penisnya Ki Jaya di anusnya ditambah dengan sumpalan penis Yono di vaginanya.
“Ooouuuhhhhhhh……aakii…. Enaaaakkkk…. Nikmaaattt…. Ki..,”lenguh Dewi.
“hhhmmm… ssllrrrppp…. hhmmmm…. ssslrrrppp… aaahhh… tetek nyonya enaak, memeknya juga tambah peret…ooohhh… nikmaatt… ngentot nyonya enaaakkk…dan nikmat…sssslrrrppp,” Yonopun mendesah sambil mulutnya sibuk bergantian menghisap-hisap kedua payudara Dewi.
“Ouughh…Yon… kontolmu juga enaaakk…sampe penuh memekku rasanyaa… terus hisap.. tetekku…Yooon… aaaghhh.. enaakk.. dientot kalian…dua lubangkuuu… penuh sesak oleh jejalan kontol kaliaannn…aaaghhhh… Yooonn… aaaagghh akii..,” Dewipun tambah mengerang menikmati hisapan dan jejalan kedua batang kemaluan di anus dan vaginanya.
Ki Jaya sambil mulut komat-kamit, kedua tangannya mulai memegangi pinggang Dewi, kemudian dengan tangannya ia mulai memaju-mundurkan tubuh Dewi dengan perlahan sehingga penisnya dan batang kemaluan Yono keluar masuk dengan sendirinya. Gesekan batang kemaluan kedua lelaki ini dengan ketatnya menggesek dinding vagina dan anus Dewi. Dewipun semakin mengerang sejadi-jadinya dan Yono sendiri semakin merasa keenakan. “aaaghhh… Kii… terusss…. Jangan berhenti… beri akuuu… kepuassaaann.,.. lagiii… aaagghhh…. Kiii… ooohhh… nikmaaaatt… Kii… teruss… terusss… tekan kontolmu yang besar itu Ki, lebih dalam …aaaaghhh…. Ki…,”erang Dewi “Nyonyaaaa.. enaakkk….memekmu…tambaaahh… nikmaatt….ssslrrrppp….hhmmm… ssslrrrppp… hmmmm..aaagghhh,” Yonopun mengerang. Yono yang untuk kedua kalinya menyetubuhi Dewi dengan orang lain merasakan perbedaan yang sangat jauh, saat dia melakukan DP dengan Pono tidak senikmat yang ia lakukan sekarang dengan Ki Jaya. Vagina Dewi lebih ketat melingkari penisnya sehingga pergesekan batang penisnya dengan dinding vagina Dewi menjadi lebih enak apalagi penisnya Ki Jaya yang luar biasa besar itu menyumpal penuh anus Dewi sehingga menekan lebih kuat ke dinding vagina Dewi, ditambah vagina Dewi yang sekarang ini dapat memijat-mijat. Ini semua dapat dia rasakan karena Ki Jaya yang perlahan-lahan memaju mundurkan tubuh Dewi.
“Aagghhh… nyonyaaaa… ssslrrpppp…hmmmm… enaaakk… ssslrrrpp…sssllrrppp…. Nikmaaat…memekmu pereet..sekaaalii…ooohhh… nyaaaa…. Aakuuu mmaau keluar.. aaaghhh gak tahann kontolku dipijaat..pijaaat..memek… nyonyaaa…,”Yono mengerang “Aaakuuu…jugaaa…gak tahaaan… lagiii oooughh… nikmaaattnnyaa… dientot kalian berdua….aaaaaghhh…. sedaaaappp….enaaaakk… teruussss….Ki…. dorong yang lebih dalam…Ki….aaaku mau keluaar…,” Dewipun mengerang Ki Jaya yang masih tetap merapal mantra itu tetap asyik memaju mundurkan pantat Dewi, dan saat ia mendengar erangan Dewi yang mau mencapai puncak kenikmatannya yang ke lima kalinya itu, dengan hentakan yang pasti, tangannya menarik pantat Dewi ke arah tubuhnya sehingga penisnya melesak jauh ke dalam lubang anus Dewi, begitu pula dengan penisnya Yono yang ikut melesak lebih dalam di vagina Dewi. Kemudian Ki Jaya menghentikan gerakan tangannya yang mendorong dan menarik pinggang Dewi itu. Ssssrrrrrr….ccreeeettt….ssrrrr….creeeetttt…ssssrrr r…cccreeeett… hampir bersamaan vagina Dewi dan batang kemaluan Yono memuntahkan lahar kenikmatan mereka.
“Ooooggghhh…Yooonn… Kiii… aaakuuu… keluaaarrr….. enaaaaakkk sekalii… aaaaghhhh…. ,”Dewi mengerang saat menyambut puncak kenikmatannya yang berhasil ia rengkuh kembali.
“Aaaaaaaghhh… Nyyaaaa… enaaaaakkk.. aaakuu juga keluaaar…. Nikmatnya ngentot nyonyaaaa… aaaaagggghhhh….,” Yonopun mengerang menandakan ia juga berhasil meraih puncak kenikmatannya.
Ki Jaya tersenyum mendengar itu semua, mulutnya berhenti merapal mantra, selang tak lama setelah nafas Dewi dan Yono tidak terdengar memburu lagi, Ki Jaya mulai menarik keluar penisnya dalam jepitan lubang anus Dewi.
“hehehehe… gimana enak nak Dewi, dan kamu Yono gimana rasanya memek nyonyamu itu, lebih enak kan,” tanya Ki Jaya kepada Dewi dan Yono. Dewi kembali tersipu malu mendengar pertanyaan Ki Jaya itu, sambil ia mengangkat tubuhnya sehingga penisnya Yono terlepas dari jepitan vaginanya. Dengan perlahan dari lubang vaginanya mengalir keluar sperma Yono. Yono sendiri tidak menjawab tapi tersenyum puas dapat merasakan kembali vagina nyonyanya itu, apalagi vagina nyonyanya sekarang lebih peret.
Ki Jaya kembali memasukkan tangannya ke mangkuk dan mengusapkan kedua tangannya ke batang kemaluannya yang masih berdiri dengan gagahnya, kemudian ia berdiri di atas bale dan menghampiri Dewi yang sedang duduk, dan mengasongkan penisnya itu ke mulut Dewi.
“nah sekarang ritual yang ke empat, jilatin dan hisap penisku nak Dewi, masukkan penisku semampu mulutmu menampung penisku ini,” kata Ki Jaya. Dewipun segera mematuhi perintah Ki Jaya, dengan bernafsu penisnya Ki Jaya ia masukkan ke dalam rongga mulutnya, tapi karena terlalu panjang dan besar, batang kemaluan Ki Jaya hanya bias masuk setengahnya saja, itu juga sudah membuat Dewi gelagapan dan terbatuk-batuk saat kepala penisnya Ki Jaya menyentuh anak tekaknya. Kemudian dengan lincahnya Dewi mulai memainkan mulutnya di batang kemaluan tersebut, dijilatinya batang kemaluan tersebut dan juga dihisap-hisapnya.
Yono melihat mulut Ki Jaya kembali komat-kamit, sementara Dewi semakin asyik mengulum-ngulum dan menghisap-hisap batang kemaluan Ki Jaya itu. Kurang lebih sepuluh menit sudah Dewi mengoral penis Ki Jaya, tapi terlihat Ki Jaya belum menampakkan tanda-tanda mau keluar. Sementara Yono sudah terbangkit lagi gairah nafsu birahinya, begitu pula dengan Dewi yang sedang asyik mengkaraoke penis Ki Jaya itu mulai terbangkit lagi gairah birahinya. Dewi merasakan cairan pelicin Ki Jaya semakin sering keluar dan tanpa rasa jijik sedikitpun ia menelan air ludahnya yang sudah bercampur dengan cairan pre-cum penisnya Ki Jaya.
“Nah, sekarang nak Dewi kembali tiduran, dan kamu Yono geser sana, kamu nonton saja dulu,”kata Ki Jaya, saat dia telah selesai merapal mantranya dan menarik penisnya dari kuluman mulut dan genggaman tangan Dewi.
Dewi segera mematuhi perintah Ki Jaya, begitu pula dengan Yono yang segera menggeserkan pantatnya ke pinggiran bale. Setelah Dewi telentang di hadapannya, Ki Jaya mulai mengarahkan penisnya ke lubang senggama Dewi. Saat kepala penisnya berada dalam jepitan bibir vagina Dewi, Ki Jaya mulai menekan masuk penisnya itu ke dalam lubang senggama Dewi. Dengan perlahan tapi pasti penisnya itu terbenam seluruhnya dalam rongga kewanitaan Dewi. Kemudian Ki Jaya mulai mengeluar masukkan batang kemaluannya itu, Dewi merintih-rintih akibat perlakuan Ki Jaya itu.
“Eehhh…enak…nak Dewi..hehehehe,” tanya Ki Jaya sambil terkekeh-kekeh, sekarang Ki Jaya tidak merapal mantra lagi, yang ada sekarang ia ingin juga menikmati vagina nyonya sexy ini, hasil karyanya sendiri.
“Iyaaa.,…Ki,.. enaaak…kontol aki enaak betul…aaaagghh…terus…Ki…yang dalam… tekaaann… yang dalam…Ki… aaaghhhh…yang kuat….puaskan aku…Ki, entot akuu… Ki oooughhh…Ki….,”rintih Dewi Sodokan-sodokan Ki Jaya semakin bertambah cepat dan semakin menusuk lebih dalam di lubang vagina Dewi.
Dewi semakin blingsatan dibuatnya, kepalanya bergoyang ke kiri dan kanan merasakan nikmat yang sangat, mulutnya tak hentinya mengeluarkan suara rintihan dan desahan. Penis Yonopun semakin mengeras menyaksikan itu, terlebih mendengar suara erangan dan rintihan kenikmatan nyonyanya. Ki Jayapun semakin gencar menyodok-nyodokkan penisnya, ritme keluar masuk penisnya di vagina Dewi semakin bertambah cepat, membuat Dewi semakin merintih-rintih keenakan, sementara itu Yono hanya bisa menelan ludah saja melihat nyonyanya kelojotan dan merintih-rintih keenakan disodok oleh penis Ki Jaya sambil ia memainkan penisnya sendiri. “Ooouughh..akiii.. enaaaakkk…. Terussss….Kiiii…. terussss…. Ssodddoookk.. yang lebih dalaaaam… kontolnya.. aaaaghhh….sssshhhh..aaaahhh…oohhh…aaahhh…oohhh nikmaaaattt…Kii….. dientoooottt… akii… memang enaaakk… aaahhh…ooohh..aaahh…,” Dewi semakin merintih-rintih. Yono yang mendengar rintihan Dewi dan melihat penisnya Ki Jaya yang semakin cepat keluar masuk di lubang vagina nyonyanya itu, semakin cepat gerakan tangannya mengocok penisnya sendiri, nafsu birahinya semakin memuncak melihat permainan seks Ki Jaya dan Dewi. Sementara itu Ki Jaya semakin menghentak-hentakkan penisnya saat batang kemaluannya itu masuk ke relung lubang senggama Dewi, sehingga membuat tubuh Dewi terguncang dengan hebatnya. Dewipun semakin merasa keenakan merasakan hujaman penis Ki Jaya itu yang masuk lebih dalam di lubang senggamanya. Dewi merasakan puncak kenikmatannya yang untuk kesekian kalinya itu akan segera di rengkuhnya. Ki Jayapun merasakan hal yang sama juga, Ki Jaya merasakan desakan spermanya sudah berada di kepala penisnya, ia pun semakin mempercepat gerakannya, dan mulutnya kembali komat-kamit, Yonopun sudah mendekati puncak birahinya. “Oooohhh.. Ki.. aku keluaaarrr…aaaahhh….aaaahhh…. ssshhh… oooohhhh.. enaaakk.. Ki, aku puaaaassss…. Dientoottt..aki…hhmmm…aaaahhh….,” Dewi mengerang saat vaginanya menyemburkan cairan birahinya. “ooohhh….ooohhh…aku juga keluaarrr…nyonyaaa…..,”Yonopun mengerang saat penisnya menyemprotkan air maninya. “Naaak… Dewiii… sambuttt pejuhkuu…iniii… ddaaann…ini aadalahh. ritual terakhir…”Ki Jayapun mengerang sambil penisnya menyemprotkan air maninya di dalam rongga rahim Dewi. Sssrrrr…creeeett….sssrrrr…ccreeeett! Kemaluan mereka secara bersamaan menyemburkan lahar kenikmatannya yang berhasil mereka rengkuh, penis Yono menyemburkan spermanya ke atas dan jatuh ke lantai, sementara penis Ki Jaya menyirami rahim Dewi dengan kuat. Dewi merasakan rahimnya hangat oleh spermanya Ki Jaya, sementara itu vagina Dewi membasahi batang kemaluan Ki Jaya yang terbenam di dalam lubang rahimnya. Setelah mendiamkan dan menikmati pijatan vagina Dewi, Ki Jaya perlahan-lahan menarik keluar penisnya yang sudah mulai lemas, diikuti dengan spermanya yang perlahan-lahan mulai menetes dari lubang vagina Dewi.
“Nah, nak Dewi, tuntas sudah ritual pengobatan ini, ritual terakhir adalah agar nak Dewi tidak bisa hamil, makanya saya harus menyemprotkan pejuh saya kerahim nak Dewi,” Ki Jaya menjelaskan pengobatannya sudah selesai dengan keluarnya sperma dari penisnya.
“Pokoknya, sekarang ini siapapun lelaki yang menggauli nak Dewi, akan selalu patuh dan taat kepada nak Dewi, terutama kemaluan nak Dewi bias menyesuaikan dengan segala ukuran kemaluan lelaki,” Ki Jaya menambahkan tapi sambil berbisik.
Dewi yang mendengar semua itu, menganggukkan kepalanya tanda mengerti, tak lama kemudian Dewi mulai mengambil seluruh pakaiannya dan mengenakannya satu-persatu, kemudian Dewi mengambil sejumlah uang dari dalam tasnya dan diberikannya kepada Ki Jaya.
“Ki, ini saya bayar seadanya dulu, besok saya akan kembali lagi untuk membayar lagi,” kata Dewi saat memberikan uang tersebut kepada Ki Jaya. “Baik, nak Dewi, yang penting nak Dewi puas dengan hasil pengobatan saya, kapanpun pintu rumah ini terbuka untuk nak Dewi datang kembali, tidak usah dipaksain harus besok,” Ki Jaya menjawab “Baiklah Ki, kami pamit dulu,”kata Dewi berpamitan setelah lengkap berpakaian.
Dewi dan Yonopun kembali lagi ke Jakarta dan mereka langsung pulang ke rumah. Dalam perjalanan Dewi merasa hari ini dia betul-betul beruntung dapat menikmati kepuasan bersetubuh sampai beberapa kali dan yang penting kemaluannya bisa menyesuaikan dengan kemaluan siapapun yang akan memakainya, dan yang jelas suaminya nanti akan patuh terhadap dia walaupun dia ML dengan siapapun di hadapan suaminya sekalipun. Sementara Yono merasa puas juga karena dia yang pertama mencobai vagina nyonyanya yang telah diobati dan dia merasakan vagina nyonyanya itu bertambah sempit dan bisa memijat-mijat sekarang ini.
ini lah Si Dewi Penggila Hasrat yang selalu membuat setiap mata lelaki selalu menolehnya ...